AS ke Mitra Dagang soal Tarif Trump: Tarik Napas, Jangan Balas Dendam

21 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan negara-negara mitra dagang Amerika untuk tidak melakukan tindakan gegabah dalam merespons program tarif Presiden AS Donald Trump.

Bessent mendesak kehati-hatian, baik dari masyarakat AS maupun dari mitra dagang, dengan mengeluarkan peringatan keras saat tarif mulai berlaku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Duduk lah, tarik napas dalam-dalam, jangan langsung balas dendam. Mari kita lihat ke mana arahnya, karena jika Anda membalas, begitulah yang membuat terjadinya eskalasi," kata Bessent kepada CNN.

"Melakukan sesuatu yang gegabah adalah tindakan yang tidak bijaksana," ia menegaskan.

Hal itu disampaikan tak lama setelah saham AS anjlok dalam perdagangan setelah jam kerja usai Trump mengumumkan tarif luas mulai dari 10 persen, dengan tarif yang jauh lebih tinggi untuk negara-negara tertentu.

Dalam beberapa menit setelah pengumuman Trump, indeks berjangka yang melacak indeks utama Amerika S&P 500 turun dua persen, sementara Nasdaq turun tiga persen - jenis penurunan yang tidak terlihat sejak dimulainya pandemi.

[Gambas:Video CNN]

"Perang dagang tergantung pada negara. Namun, ingat bahwa sejarah perdagangan menunjukkan bahwa kita adalah negara defisit," kata Bessent.

"Negara defisit memiliki keuntungan. Mereka adalah negara surplus. Negara surplus secara tradisional selalu kalah dalam segala bentuk eskalasi perdagangan," ia menambahkan.

Beberapa negara telah mengatakan bahwa mereka akan bersiap ketika tarif mulai diberlakukan sebagai respons terhadap tindakan Trump.

Gedung Putih mengumumkan tarif dasar 10 persen untuk semua impor, berlaku mulai 5 April, dengan tarif yang lebih tinggi untuk negara-negara yang mengenakan bea lebih tinggi pada barang-barang AS.

Trump mengonfirmasi bahwa mulai tengah malam di Washington, tarif 25 persen akan dikenakan pada semua mobil asing yang diimpor ke AS.

Trump mengangkat bagan saat berpidato di Gedung Putih, yang menunjukkan Amerika Serikat akan mengenakan pajak sebesar 34 persen atas impor dari China, pajak sebesar 20 persen atas impor dari Uni Eropa, 25 persen atas Korea Selatan, 24 persen atas Jepang, dan 32 persen atas Taiwan.

Ia menggunakan retorika agresif untuk menggambarkan sistem perdagangan global yang dibangun Amerika Serikat setelah Perang Dunia II, dengan mengatakan 'negara kita telah dijarah, dirampok, diperkosa, dirampok' oleh negara-negara lain.

Trump juga mengumumkan keadaan darurat ekonomi nasional untuk meluncurkan tarif, yang diharapkan menghasilkan pendapatan tahunan ratusan miliar.

Ia telah berjanji bahwa pekerjaan pabrik akan kembali ke Amerika Serikat sebagai akibat dari pajak tersebut. 

Namun, kebijakannya berisiko menyebabkan perlambatan ekonomi mendadak karena konsumen dan bisnis dapat menghadapi kenaikan harga yang tajam untuk mobil, pakaian, dan barang-barang lainnya.

(chri)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |