Jakarta, CNN Indonesia --
Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) merilis daftar warga negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi tentara bayaran di Rusia.
Dalam pernyataan pada 27 Agustus lalu, FISU menyebut perekrutan kedelapan WNI diketahui usai pihaknya memperoleh salinan komunikasi Kementerian Luar Negeri Rusia mengenai pemrosesan visa untuk WNI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina telah memperoleh dokumen tentang setidaknya delapan warga negara Indonesia yang direkrut ke dalam barisan tentara pendudukan RF," demikian pernyataan FISU di laman resminya.
FISU menyatakan kedelapan WNI berusia antara 29 hingga 47 tahun. Mereka direkrut sebagai tenaga kerja murah usai diiming-imingi gaji tinggi, tugas non-tempur, pemberian kewarganegaraan Rusia, serta tunjangan sosial menarik lainnya.
Menurut FISU, orang-orang yang direkrut kebanyakan tak tahu akan dikirim ke mana.
"Pola yang sama sebelumnya telah digunakan ke warga negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India. Sebagian besar dari mereka berakhir di garda depan tanpa pelatihan apa pun, dan beberapa tewas dalam beberapa minggu pertama," demikian pernyataan FISU.
"Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, telah bergabung dalam daftar negara yang telah dijadikan Kremlin sebagai sumber tenaga kerja murah untuk perang," lanjut badan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) telah bersuara mengenai laporan ini. Juru bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan saat ini pemerintah memantau informasi dan berkoordinasi dengan perwakilan setempat.
"Informasi mengenai identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan individu yang disebutkan masih perlu dipastikan lebih lanjut," kata Yvonne dalam keterangan resmi, Senin (31/8).
Yvonne menegaskan Indonesia memiliki ketentuan hukum yang jelas mengenai keterlibatan WNI dalam dinas militer negara asing, termasuk konsekuensinya terhadap status kewarganegaraan.
Pemerintah Indonesia juga disebut akan mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, atau perekrutan melalui tawaran kerja yang tidak sesuai tujuan sebenarnya.
"Apabila terdapat WNI yang menjadi korban dalam proses tersebut, Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah pelindungan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," ujar Yvonne.
"Apabila keterlibatan WNI dalam angkatan bersenjata negara asing dimaksud terverifikasi, hal tersebut merupakan tindakan individual dan tidak merepresentasikan kebijakan maupun posisi Pemerintah Indonesia," lanjutnya.
Berikut daftar 8 WNI yang jadi tentara Rusia:
1. Yuda Putra Pratama (kelahiran 9 Agustus 1997)
2. Haryanto Dwi Kencana (kelahiran 14 Juli 1983)
3. Erwanda (kelahiran 5 Agustus 1988)
4. Ngangun Hudri Fadli (kelahiran 17 September 1978)
5. Syaripudin Muhammad (kelahiran 3 Agustus 1994)
6. Maulana M Hadi (kelahiran 7 April 1987)
7. Iskandar Wahyu Oktavian (kelahiran 22 Oktober 1985)
8. Helmi Nugraha Hakim (kelahiran 27 November 1983)
(blq/rds)

3 hours ago
2
















































