Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kemarahannya pada pada dua sutradara film NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor.
Menurut Netanyahu, film NAZA akan mendorong kekerasan dan antisemitisme terhadap orang Yahudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini mengejutkan. Kita sedang melawan hasutan anti-Semit global dan ketika itu datang dari dalam diri kita sendiri, itu tidak dapat ditoleransi," kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah Senin di Telegram.
"Dan sekarang dua sutradara Israel yang menggambarkan IDF sebagai penjahat perang mendapat tepuk tangan di festival Venesia," dikutip media pro Yahudi dan Israel, The Algemenier.
Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar, mengancam akan mencabut kewarganegaraan Israel Abraham dan Szor, sementara kepala militer Israel, Eyal Zamir, mengatakan bahwa "NAZA" "didasarkan pada fitnah berdarah, distorsi realitas yang disengaja, dan tuduhan palsu yang serius terhadap tentara dan komandan IDF."
NAZA adalah film dokumenter yang disutradarai Rachel Szor dan Yuval Abraham, keduanya warga Israel. Karya mereka berhasil mendapatkan apresisi tertinggi di ajang Festival Film Venesia, Italia. Usai pemutaran, tepuk tangan terlama bergema hingga lebih dari 20 menit, Kamis (10/9) waktu setempat.
Film yang berkisah tentang petugas intelijen Israel yang enteng membunh warga Gaza dengan menggunakan perangkat itu, diproduki oleh The Guardian, media asal Inggris.
NAZA adalah akronim yang digunakan oleh dinas intelijen untuk menunjukkan berapa banyak warga sipil yang diperkirakan akan tewas dalam serangan udara di Gaza.
"Pasukan Pertahanan Israel lebih suka menargetkan anggota Hamas di rumah mereka pada malam hari, dan jika mereka tinggal bersama keluarga mereka, atau di lingkungan yang padat penduduk, itu nasib buruk. Pada suatu titik, sebuah sumber mengklaim, persetujuan diberikan 500 NAZA untuk membunuh satu anggota Hamas," begitu tulis The Guardian.
"Peran saya bersifat teknis," kata salah satu dari pasukan yang ditampilkan. "Saya hanya roda gigi kecil," kata yang lain.
Film ini mengungkap sebuah sistem yang sangat efisien dan licik. Serangkaian pemutusan hubungan di dalamnya tampaknya dirancang untuk menjauhkan para pelaku dari kejahatan. Banyak dari orang-orang ini bekerja jarak jauh dari Tel Aviv.
Kecerdasan buatan (AI) memilih target dan sebuah drone menjatuhkan bom. Bahkan bahasanya pun terasa sengaja menggunakan eufemisme dan mengaburkan makna. NAZA diterjemahkan sebagai kerusakan tambahan (collateral damage), yang pada gilirannya diartikan sebagai manusia.
"Tentu, memang lebih mudah membunuh orang ketika Anda melakukannya di layar," kata Yuval Abraham.
"Saya rasa ada benarnya juga. Tetapi perlu juga dikatakan bahwa petugas intelijenlah yang paling tahu. Mereka mendengarkan percakapan telepon seluler. Mereka tahu rumah yang mereka bom penuh dengan anak-anak. Mereka bisa mendengar bayi menangis. Namun mereka tetap memerintahkan serangan lain."
(imf/bac)

3 hours ago
2















































