Jakarta, CNN Indonesia --
Iran menyindir retorika Presiden Donald Trump yang mengeklaim serangan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari berhasil menghancurkan negara Timur Tengah itu.
Trump terkenal sebagai pemimpin yang hobi "yapping" di media sosial dengan menyampaikan berbagai klaimnya termasuk soal perang AS vs Iran ini melalui kicauan di X dan Truth Social, platform buatannya.
Sejak perang AS-Iran pecah, Trump sering kali mengeklaim soal capaian yang dihasilkan dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di media sosial, Trump bahkan mengeklaim AS bisa memenangkan peperangan yang sudah memasuki pekan kedua dan terus meluas ke negara lainnya di kawasan ini dengan cepat.
"Trump berbual lagi: 'kita harus memenangkan perang dengan cepat'. Memulai perang memang mudah, tapi mengakhirinya tidak bisa dilakukan hanya dengan mengunggah beberapa cuitan (di medsos)," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional iran, Ali Larijani, melalui X.
"Kami tidak akan membiarkan Anda lolos sampai Anda mengakui kesalahan dan membayar harga atasnya," paparnya menambahkan.
Memasuki pekan kedua perang, Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah apalagi tunduk kepada AS.
Iran bahkan masih melancarkan serangan balasan ke pangkalan dan situs-situs Israel dan AS di kawasan.
Dalam pernyataan perdana ke publik, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan bersumpah akan membuat AS dan Israel membayar segala kerusakaan yang terjadi.
Khamenei bahkan mengultimatum negara-negara Arab sekutu AS di Timur Tengah untuk menutup pangkalan-pangkalan militer Negeri Paman Sam atau bakal terus jadi target serangan.
"Seluruh pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup, jika tidak pangkalan-pangkalan itu akan diserang," ujar Mojtaba pada Kamis (12/3).
Di hari pertama pemboman AS-Israel, Iran langsung meluncurkan serangan balasan ke Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Saat ayah Mojtaba Khamenei, Ayatollah Ali Khamenei, dinyatakan meninggal imbas serangan AS-Israel, serangan balasan Iran kian intensif.
Beberapa negara Arab murka dan bahkan mengecam operasi balasan Iran tersebut karena memasuki kedaulatan wilayah mereka.
Di tengah pembalasan itu, Iran juga menutup jalur perdagangan minyak global Selat Hormuz.
Dalam pernyataan perdananya, Mojtaba Khamenei juga ogah mengendurkan langkah Iran dan bersumpah akan terus melakukan penutupan Selat Hormuz.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
4

















































