Jakarta, CNN Indonesia --
Tiga generasi dari satu keluarga tewas tertimbun reruntuhan setelah serangan udara Israel menghantam rumah mereka di Lebanon selatan pada Senin (7/9) malam.
Anak-anak termasuk di antara korban tewas dalam serangan brutal Israel tersebut, dengan korban jiwa termuda merupakan bayi berusia dua bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas pertahanan sipil bekerja sepanjang malam hingga pagi hari untuk mengevakuasi jenazah dari balik reruntuhan. Prosesnya berlangsung dengan susah payah karena mereka harus membersihkan puing-puing lantai beton yang runtuh.
Dikutip Al Jazeera, dua korban tewas terakhir, termasuk seorang anak, baru ditemukan dua jam setelah serangan berlangsung.
Serangan Israel ini merupakan yang terbaru ke Lebanon selatan, wilayah yang dikuasai sekutu Iran, milisi Hizbullah.
Ini terjadi kala Israel seharusnya mematuhi gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Namun, Israel lagi-lagi membangkang.
Sebagian warga Lebanon selatan juga baru kembali pulang ke rumah mereka setelah sempat mengungsi imbas serangan Israel.
Namun, situasi kini berubah. Bagi sebagian warga, serangan terbaru ini mungkin berarti peperangan kembali memanas dan mereka harus kembali mengungsi.
Salah seorang warga di Lebanon selatan, Mustafa bercerita bahwa dia meninggalkan desanya di wilayah perbatasan hampir tiga tahun lalu.
"Desa saya berada di garis depan sejak akhir 2023, dan sekarang diduduki Israel. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," katanya.
Selama beberapa pekan terakhir, militer Israel berupaya merebut dataran tinggi strategis dari Hizbullah dan kini mengatakan telah memiliki "kendali operasional" atas wilayah tersebut.
Israel mungkin sedang berupaya menetapkan aturan keterlibatan baru di Lebanon selatan dengan meningkatkan intensitas serangan, sembari menuduh Hizbullah melancarkan serangan menggunakan drone bersenjata terhadap pasukannya-tuduhan yang belum ditanggapi oleh kelompok tersebut.
(rds)

5 hours ago
1
















































