Jakarta, CNN Indonesia --
Israel kembali melancarkan serangan ke Iran di hari terakhir Februari lalu dengan bantuan Amerika Serikat hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Meski mengeklaim serangannya "sukses" mengeksekusi pemimpin tertinggi musuh, Israel ternyata harus membayar peperangan yang kini meluas di hari keenam dengan nilai fantastis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, belum ada perhitungan pasti soal total pengeluaran Israel selama perang berlangsung.
Namun, menurut laporan The Wall Street Journal, jika merujuk pada perang Israel vs Iran pada Juni 2025 lalu, Tel Aviv menghabiskan sampai US$200 juta (Rp3,38 triliun) per hari untuk berperang dengan Teheran.
Sementara itu, saat itu Israel terlibat saling serang dengan Iran selama sekitar 12 hari.
Beban termahal adalah pencegahan rudal Iran, yang biayanya saja bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan juta dolar per hari.
Dilansir The Middle East Monitor (MEMO), sistem pertahanan udara Israel seperti David's Sling dan Arrow 3 telah menghabiskan biaya masing-masing U$7000 (sekitar Rp118 juta) dan US$ 4 juta (sekitar Rp6,76 triliun). Kedua sistem ini telah diaktifkan dan sudah menangkal 400 rudal Iran.
Operasi ofensif juga meningkatkan biaya. Mengerahkan F-35 Israel sejauh lebih dari 1.609 km untuk menyerang target di Iran membutuhkan biaya sekitar U$10 ribu (Sekitar Rp169 juta ) per jam per jet, dan harga bom presisi seperti JDAM dan MK84 yang tak dicantumkan harganya.
Secara keseluruhan, Aaron Institute for Economic Policy, memperkirakan bahwa perang selama sebulan bisa menelan biaya Israel sebesar US$12 miliar (sekitar Rp202,8 triliun).
Ekonom Zvi Eckstein menilai perang Israel saat itu dianggap jauh lebih mahal daripada perang Gaza atau Hizbullah.
"Amunisi, baik untuk pertahanan maupun serangan, adalah pengeluaran terbesar," kata dia.
Meski, pasar Israel tetap stabil kerusakan di lapangan semakin meningkat.
Para pakar memperkirakan biaya rekonstruksi akibat serangan rudal akan melebihi US$400 juta (sekitar Rp6.76 triliun), karena ratusan bangunan telah rusak, dan lebih dari 5.000 warga sipil dievakuasi.
Dalam beberapa hari terakhir, Timur Tengah membara usai AS dan Israel menggempur habis-habisan Iran pada 28 Februari.
Di hari yang sama, Iran meluncurkan balasan. Mereka menargetkan Israel dan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Hingga kini, AS-Israel dan Iran terus saling serang. Perang tersebut menyebabkan lebih dari 1.000 orang di Iran tewas.
Tekanan ekonomi biasanya jadi alat seruan mempersingkat perang. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump belum mengindikasikan niat menghentikan operasi.
AS dan Israel menyatakan bakal terus menyerang Iran hingga berhasil melumpuhkan program nuklir dan rudal Iran serta mengganti rezim.
(rds/bac)

10 hours ago
5














































