Kronologi 7 Tentara AS Berkelahi sampai Tewas di Kapal USS Lincoln

9 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah pelaut dan marinir Amerika Serikat (AS) yang dikerahkan dalam perang Iran dikabarkan stres hingga nekat melompat ke laut dan berkelahi satu sama lain.

Kantor berita Tasnim melaporkan awak kapal induk USS Abraham Lincoln baru-baru ini bertengkar hebat hingga mengakibatkan tujuh orang tewas dan sejumlah orang terluka.

Menurut Tasnim, bentrokan pecah setelah penasihat kepala Komando Pusat (CENTCOM) Brad Cooper naik ke kapal induk untuk menanggapi keluhan awak, menyusul protes dari keluarga mereka atas pengerahan berkepanjangan USS Abraham Lincoln.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penasihat itu dilaporkan dicemooh dan dilempari botol saat berbicara di hadapan para personel. Konfrontasi kemudian meningkat menjadi perkelahian antar awak yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya.

USS Abraham Lincoln telah dikerahkan selama 263 hari dan saat ini beroperasi di Samudra Hindia. Kapal induk tersebut sudah menghabiskan 208 hari berturut-turut di laut, yang merupakan pengerahan terpanjang dari USS Abraham Lincoln.

USS Abraham Lincoln dikerahkan sejak November untuk mendukung operasi militer AS di Timur Tengah.

Awalnya, kapal perang berisi 5.000 lebih awak dan marinir ini cuma akan dikerahkan sampai Mei. Namun, usai Presiden Donald Trump memutuskan lanjut perang melawan Iran, pengerahan Abraham Lincoln diperpanjang tanpa batas waktu yang diumumkan ke publik.

MS Now melaporkan pekan lalu ratusan keluarga personel angkatan laut AS menemui Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao untuk memprotes pengerahan berkepanjangan USS Abraham Lincoln.

Mereka mencemaskan kondisi para personel, yang mengaku stres berat karena kelelahan, kekurangan makanan dan air bersih, hingga tinggal di kondisi kapal yang berlubang dan dipenuhi jamur.

Tentara AS frustasi perang

Menurut para keluarga, awak dan marinir USS Abraham Lincoln sudah sangat frustrasi dan ingin segera pulang. Mereka pun mendesak agar kapal perang tersebut segera ditarik dari perang.

Dilansir dari Military Times, seorang keluarga bahkan mengaku suaminya sempat mencoba lompat ke laut saking lelahnya. Beruntung sang suami diselamatkan rekannya dan kini dalam perawatan medis.

"Dia takut. Dia berpikir akan diberhentikan secara tidak hormat, dan hanya karena dia kelelahan, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja," kata Annabelle Loma, yang beberapa kali bicara dengan suaminya setelah percobaan melompat tersebut.

Menurut para keluarga, sebagian besar awak bekerja dalam shift yang sangat panjang dan melelahkan. Beberapa bahkan jarang mendapat hari libur.

Brett Snow, seorang veteran Angkatan Laut yang putranya bertugas di Abraham Lincoln, mengatakan bahwa kapal induk adalah tempat kerja yang sangat berbahaya.

Kapal induk memiliki dek penerbangan, yang menyimpan pesawat berkecepatan tinggi dan bisa membakar awak serta melempar mereka ke laut. Baling-baling yang berputar cepat juga bisa mengakibatkan kecelakaan.

Bongkar muat bom, rudal, dan roket yang terus-menerus juga menimbulkan risiko ledakan dan kebakaran.

Lingkungan yang bergerak cepat, padat, dan sangat bising juga bisa menyebabkan gangguan pendengaran imbas suara mesin yang tak henti-hentinya.

"Ini sudah menjadi tempat paling berbahaya di dunia, dan sekarang Anda harus bekerja keras, hari demi hari, tanpa istirahat. Ini adalah lingkungan rawan kecelakaan," kata Snow kepada MS Now.

Bonnie York, yang anak tirinya berada di Abraham Lincoln, juga mengatakan bahwa kondisi moral para awak dan marinir saat ini sangat buruk.

"Dokter atau terapis kapal mengatakan mereka harus segera berlabuh atau orang-orang akan mulai kehilangan akal sehat," ucapnya.

Komandan Joseph Hontz, juru bicara Armada ke-5 Angkatan Laut, mengakui adanya tekanan yang dialami para personel Abraham Lincoln.

Namun dia menampik ada lubang pada kapal, dan bahwa para personel memiliki akses ke kelas kebugaran, tim kesehatan mental, serta tim pendeta. Para personel juga disebut bisa menggunakan internet untuk bicara dengan keluarga "ketika situasi taktis memungkinkan."

Pihak keluarga, lebih lanjut, mengatakan kepada MS Now bahwa laporan pada April yang mengungkap para pelaut mendapat porsi makan kecil dan tidak layak adalah benar adanya. Laporan tersebut saat itu dibantah Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Laksamana Daryl Caudle, kepala operasi angkatan laut.

Mengenai ini, Hontz mengatakan kepada MS Now bahwa kekurangan stok makanan memang kadang terjadi untuk jangka waktu tertentu.

"Mereka kadang-kadang kekurangan persediaan tertentu untuk jangka waktu singkat, tetapi Abraham Lincoln dan semua kapal di medan operasi saat ini memiliki persediaan makanan dan perlengkapan yang cukup untuk mendukung operasi," kata Hontz, seraya mencatat bahwa buah-buahan dan sayuran segar sangat sulit untuk disediakan karena makanan tersebut membusuk saat hendak dikirim.

Hontz juga mengakui terkadang ada masalah air di kapal Lincoln. Namun, hal itu dengan cepat teratasi.

Para keluarga juga mengaku menyesal telah memilih Trump dalam pemilihan presiden kemarin. Sebab, ucapan Trump tak sesuai, karena saat itu ia berjanji tak akan memulai perang apa pun.

"Saya sangat berharap bahwa perang ini sepadan. Karena saya merasa sebaliknya ... kita berkorban untuk sesuatu yang pada dasarnya tidak ingin kita ikuti," kata York.

(blq/dna)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |