Jakarta, CNN Indonesia --
Warga Singapura, Malone Lam, mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat setelah didakwa 20 tahun penjara karena mendalangi pencurian uang kripto Rp4,2 triliun dan konspirasi pemerasan (racketeering), pada Selasa (8/9).
Ia terlibat dalam jaringan pencurian mata uang kripto senilai lebih dari US$260 juta atau sekitar Rp4,2 triliun, seperti dilaporkan Channel News Asia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengakui dirinya mengatur dan memimpin jaringan tersebut sebelum ditangkap pada September 2024.
Kasus Lam bermula ketika ia bersama para kaki tangannya menargetkan pemilik aset kripto dalam jumlah besar menggunakan metode "rekayasa sosial."
Mereka menyamar sebagai karyawan perusahaan terpercaya, termasuk Google, untuk membujuk korban memberikan informasi pribadi seperti kata sandi, frasa kunci, dan kode autentikasi.
Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengakses dompet kripto para korban.
Salah satu pencurian terbesar terjadi pada Agustus 2024.
Lam dan para kaki tangannya mencuri lebih dari 4.100 bitcoin milik seorang korban di Washington, DC. Nilai aset tersebut saat itu mencapai sekitar US$230 juta.
Setelah pencurian, mereka berusaha menghilangkan jejak dengan mencuci aset kripto curian dan menukarkannya menjadi kartu pembayaran atau uang tunai.
Selain itu, gaya hidup mewah Lam justru menarik perhatian aparat.
Lam diketahui menghabiskan jutaan dolar untuk membeli mobil mewah, jam tangan, pakaian, jet pribadi, pengawal keamanan, serta menyewa sejumlah properti di Miami, Los Angeles, dan Hamptons.
Beberapa kendaraan yang dibelinya bahkan bernilai hingga US$3,8 juta.
Ia juga pernah menghabiskan US$569 ribu (Rp10 miliar) dalam satu malam di sebuah klub malam di Los Angeles.
Polisi kemudian menangkap Lam pada September 2024, hanya beberapa pekan setelah pencurian bitcoin senilai ratusan juta dolar tersebut.
Pengakuan bersalah Lam terjadi setelah berbulan-bulan ketidakpastian mengenai apakah kasusnya akan berakhir melalui kesepakatan pembelaan atau persidangan.
Pemerintah AS mengajukan tawaran kesepakatan baru pada November 2025, sementara pengacara Lam pada sidang Mei menyatakan telah terjadi "kemajuan signifikan" dalam kasus tersebut.
Sejumlah orang yang diduga terlibat dalam jaringan Lam juga menyatakan kesediaan untuk memberikan kesaksian terhadapnya jika kasus tersebut berlanjut ke persidangan.
Lam dijadwalkan kembali ke pengadilan pada 8 Desember untuk sidang penetapan status. Hakim diperkirakan akan menetapkan jadwal pembacaan vonis dalam persidangan tersebut.
Lam dan para kaki tangannya juga diperintahkan mengembalikan lebih dari US$245 juta dana curian kepada para korban.
(rds/bac)

5 hours ago
2















































