Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi salah satu keputusan paling sulit sejak perang melawan Iran dimulai, yakni apakah akan mengirim pasukan darat ke wilayah tersebut.
Dalam sejumlah pengarahan hampir setiap hari bersama pejabat militer di Gedung Putih, Trump disebut telah meninjau berbagai opsi, termasuk pengerahan ribuan tentara Amerika Serikat ke Timur Tengah. Namun keputusan itu dinilai berisiko tinggi secara politik maupun militer.
Sejumlah sekutu Partai Republik memperingatkan pengerahan pasukan darat bisa menggerus dukungan politik terhadap perang, bahkan mengancam agenda pendanaan besar yang tengah disiapkan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, bagi Trump, pencapaian tujuan perang secara penuh serta meminimalkan dampak konflik bisa saja menuntut langkah lebih jauh, termasuk opsi darat yang selama ini coba ia hindari.
"Saya tidak akan mengirim pasukan ke mana pun. Kalau pun iya, saya pasti tidak akan memberi tahu Anda," ujar Trump di Gedung Oval, Washington, Kamis (19/3, mengutip CNN.
Tekanan akhiri perang menguat
Dalam situasi dilematis tersebut, memasuki pekan keempat konflik, tekanan terhadap Trump untuk segera mengakhiri perang semakin besar. Dampak ekonomi global, termasuk lonjakan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran, memicu kritik bahwa keputusan menyerang Teheran tidak sepenuhnya diperhitungkan.
Trump sendiri mulai memberi sinyal membuka opsi mengakhiri perang. Ia mengatakan akan "mempertimbangkan untuk mengakhiri" konflik dalam waktu dekat, meski di saat bersamaan pasukan tambahan AS terus dikirim ke kawasan.
Target ambisius yang ditetapkan di awal perang-termasuk melumpuhkan kemampuan militer dan nuklir Iran-hingga kini belum sepenuhnya tercapai. Biaya perang, baik dari sisi ekonomi maupun korban jiwa, terus meningkat.
Perbedaan strategi dengan Israel
Di sisi lain, muncul perbedaan pendekatan antara AS dan Israel terkait tujuan akhir perang.
Seorang pejabat Israel menyebut garis waktu politik Trump jauh lebih pendek dibandingkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
"Begitu dia memutuskan berhenti, dia akan berhenti, mengatakan 'kita menang', dan selesai," kata pejabat tersebut.
Meski demikian, Trump mengklaim kedua negara memiliki tujuan yang sejalan.
"Kami sama-sama menginginkan kemenangan. Dan itulah yang kami dapatkan," ujarnya.
Namun sejumlah pejabat Barat menilai strategi Israel cenderung lebih luas, termasuk melemahkan struktur kepemimpinan Iran, berbeda dengan target militer Trump yang lebih terbatas.
Opsi perang darat dinilai berbahaya
Di internal pemerintahan AS, sejumlah skenario operasi darat telah dibahas, termasuk merebut Pulau Kharg-jalur vital ekspor minyak Iran-atau menghancurkan infrastrukturnya.
Namun langkah tersebut dinilai berisiko tinggi karena membutuhkan pengerahan besar pasukan darat.
"Itu tugas Pentagon untuk menyiapkan berbagai opsi bagi Presiden. Itu tidak berarti Presiden sudah mengambil keputusan," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Alternatif lain, seperti mengambil cadangan uranium Iran yang terkubur di fasilitas bawah tanah, juga dinilai sangat berbahaya dan berisiko kontaminasi.
Sejumlah anggota Partai Republik secara terbuka menolak opsi pengerahan pasukan darat.
"Saya tidak ingin melihat itu terjadi," kata anggota Kongres dari Wisconsin Derrick Van Orden.
Senada, anggota Kongres dari Tennessee Tim Burchett menegaskan pentingnya strategi keluar.
"Saya pikir kita harus segera menemukan jalan keluar secepat mungkin," ujarnya.
Ancaman nuklir Iran masih membayangi
Meski serangan AS dan Israel diklaim telah menghancurkan ribuan target militer Iran, tujuan utama Trump di perang ini, yakni menghentikan kemampuan nuklir Teheran, belum tercapai.
Cadangan uranium yang diperkaya masih tersimpan di bawah tanah, sementara pengetahuan teknis Iran dinilai tidak bisa dihancurkan lewat serangan militer.
"Keunggulan utama Iran adalah pengetahuan itu tidak bisa dibom hingga hilang," ujar seorang diplomat Eropa.
Kekhawatiran juga muncul bahwa Iran justru akan mempercepat pengembangan senjata nuklir setelah perang berakhir.
"Setelah semua ini, alasan apa lagi yang membuat mereka tidak akan mempercepat menuju bom nuklir?" kata seorang diplomat regional.
Situasi ini menempatkan Trump dalam dilema: melanjutkan eskalasi dengan risiko besar politik dan militer besar, atau mengakhiri perang tanpa benar-benar mencapai seluruh target strategisnya.
(lau/rti)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
3















































