Jakarta, CNN Indonesia --
Komunitas Tibet di berbagai negara memperingati 67 tahun pemberontakan Tibet tahun 1959 di Lhasa pada Selasa (10/3) kemarin.
Peringatan tersebut menandai perlawanan masyarakat Tibet terhadap pemerintahan China yang kemudian diikuti dengan pelarian Dalai Lama ke pengasingan.
Aksi peringatan digelar oleh komunitas diaspora Tibet dan kelompok pendukung di sejumlah kota di dunia. Mereka menilai peristiwa 1959 sebagai simbol perjuangan untuk mempertahankan identitas budaya, agama, dan hak-hak masyarakat Tibet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah aktivis Tibet menyatakan bahwa setelah lebih dari enam dekade, pemerintah China masih menjalankan kebijakan ketat di wilayah Tibet, termasuk dalam bidang pendidikan, agama, dan budaya.
Menurut mereka, kebijakan tersebut mencakup pengawasan terhadap aktivitas keagamaan di biara-biara, pengaturan kurikulum pendidikan, serta kebijakan bahasa yang dinilai mengurangi penggunaan bahasa Tibet dalam sistem pendidikan.
Para pengamat Tibet juga menyebut Beijing berupaya mengendalikan narasi sejarah mengenai Tibet serta membatasi pengaruh spiritual Dalai Lama di kawasan tersebut.
Pemerintah China selama ini menyatakan bahwa kebijakannya di Tibet bertujuan menjaga stabilitas, mendorong pembangunan ekonomi, serta melawan separatisme.
Peran diaspora Tibet
Komunitas diaspora Tibet di berbagai negara disebut memainkan peran penting dalam menjaga perhatian internasional terhadap isu Tibet.
Setiap tahun pada 10 Maret, kelompok diaspora bersama organisasi pendukung menggelar demonstrasi, diskusi publik, serta kegiatan budaya untuk memperingati pemberontakan 1959.
Para aktivis menilai kegiatan tersebut menjadi cara untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat Tibet mengenai sejarah pemberontakan, pengasingan, serta perjalanan komunitas Tibet di luar negeri.
Selain melalui aksi publik, narasi sejarah juga diwariskan melalui keluarga dan komunitas diaspora, termasuk melalui cerita lisan mengenai peristiwa 1959 dan kehidupan di pengasingan.
Identitas dan budaya
Sejumlah pengamat menyebut ketahanan masyarakat Tibet tidak hanya bertumpu pada faktor politik, tetapi juga pada unsur budaya dan spiritual.
Tradisi Buddhisme Tibet, misalnya, dianggap memainkan peran penting dalam membentuk nilai ketahanan, kesabaran, dan solidaritas komunitas.
Para aktivis menyatakan bahwa meskipun kebijakan kontrol pemerintah China terus berlangsung, identitas budaya Tibet tetap dipertahankan melalui praktik keagamaan, bahasa, dan tradisi komunitas.
Peringatan 10 Maret bagi banyak warga Tibet di pengasingan bukan hanya menjadi hari mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga simbol keberlanjutan identitas budaya mereka.
Hingga kini, isu Tibet tetap menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian komunitas internasional dalam diskusi mengenai hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan pelestarian budaya.
(dna)

6 hours ago
5















































