Siapa Khalil Al Hayya, Bos Baru Hamas yang Otomatis Ditarget Israel?

18 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok Hamas Palestina memilih Khalil Al Hayya sebagai Kepala Biro Politik baru, menggantikan Yahya Sinwar yang tewas dalam serangan Israel pada Oktober 2024 lalu.

"Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengumumkan pemilihan saudara mujahid Khalil Al Hayya sebagai kepala biro politik gerakan tersebut, menggantikan pemimpin yang gugur, Yahya Al Sinwar," demikian pernyataan Hamas pada Senin (20/7), seperti dikutip AFP.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khalil Al Hayya akan melanjutkan kepemimpinan Hamas sampai 2027, hingga pemilihan kepala baru digelar.

Porfil Khalil Al Hayya

Khalil Al Hayya sebelumnya bertanggung jawab sebagai negosiator utama Hamas dalam pembicaraan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel.

Nama Khalil Al Hayya tak asing lagi dalam deretan aktivis Palestina. Al Hayya juga merupakan sosok yang mengelola hubungan baik Hamas dengan Iran, sekutu regionalnya.

Dilansir Al Jazeera, Khalil Al Hayya lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960. Dia tumbuh dalam bayang-bayang trauma Perang Arab-Israel 1967 dan pendudukan Israel setelahnya.

Khalil Al Hayya sudah tertarik soal politik sejak kecil. Al Hayya kecil menyaksikan penggerebekan militer di rumah keluarganya di Gaza dan penangkapan keluarganya.

Sebuah pertemuan penting dengan pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, pada Maret 1980 membawanya masuk dalam aktivisme terorganisir.

Khalil Al Hayya menempuh studi Islam dan memperoleh gelar sarjana dari Universitas Islam Gaza pada 1983. Dia melanjutkan pendidikannya dan mendapat gelar master dari Universitas Yordania pada 1986 dan gelar doktor dalam ilmu hadits dari Sudan pada 1997. Dia juga tergabung dalam Asosiasi Cendekiawan Palestina.

Sebagai anggota pendiri Hamas pada 1987, Khalil Al Hayya berulang kali keluar masuk penjara Israel selama pemberontakan Palestina yang dikenal sebagai Intifada pertama. Selama masa penahanan, dia mengalami penyiksaan berat.

Khalil Al Hayya resmi terjun ke dunia politik pada 2006. Dia mengamankan kursi di Dewan Legislatif Palestina dan memimpin blok parlemen Hamas.

Perjalanan politiknya tidaklah mudah. Khalil Al Hayya berulang kali harus menghadapi upaya pembunuhan yang dilakukan Israel dan kehilangan keluarga besarnya.

Serangan udara Israel pada Mei 2007 di rumah Al Hayya menewaskan tujuh kerabatnya, termasuk dua saudara laki-lakinya. Setahun berikutnya, dia kehilangan putranya Hamza yang tergabung dalam Brigade Qassam.

Serangan Israel pada tahun-tahun berikutnya menewaskan anggota keluarganya yang lain, termasuk putra sulung, istri, dan tiga anak mereka. Khalil Al Hayya sendiri selamat dalam serangan di Doha, Qatar pada September 2025.

Kehilangan banyak anggota keluarga dalam rentetan konflik berkepanjangan tak menyurutkan semangat dan posisinya sebagai tokoh sentral politik Hamas.

(rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |