Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat dikabarkan mulai kesulitan untuk merekrut anak-anak muda untuk menjadi tentara din tengah perang antara Washington dengan Iran di Timur Tengah.
AS bahkan disebut mulai menggunakan jebakan pengampunan utang kepada mahasiswa yang terlilit pinjaman pelajar hingga kartu kredit agar mereka bergabung menjadi tentara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para mahasiswa diiming-imingi pembebasan semua utang oleh Pentagon jika mereka bersedia bergabung dalam misi militer dan ditempatkan di daerah konflik.
Pendekatan tersebut diungkapkan mantan perwira militer Kanada AJ Jaff dalam kolom opininya di Jerusalem Post dengan judul tulisan "The war with Iran will not be won through airstrikes, so what's left?"
AJ Jaff rutin menulis kolom di media Israel tersebut terkait konflik di Timteng.
Cara AS untuk menguatkan narasi patriotik membela kepentingan Amerika ke anak-anak muda Amerika dianggap telah gagal total.
Semakin banyak dari generasi muda ini menolak bergabung menjadi tentara, terutama karena sikap kritis mereka terhadap perang yang dilakukan AS.
"Angka perekrutan saat ini berada di bawah jumlah yang dibutuhkan untuk invasi darat ke Iran. Estimasi untuk keberhasilan operasi darat melawan 31 komando provinsi Iran dan Doktrin Pertahanan Mosaik mereka berkisar antara 750 ribu hingga 1,5 juta tentara Amerika," tulis AJ Jaff dalam kolomnya tersebut.
"Saat ini, jumlah personel aktif Angkatan Darat AS hanya sekitar 452 ribu. Jelas, hitung-hitungannya tidak masuk akal."
Namun, Jaff menilai, ada jalan keluar yang bisa ditempuh berkaca pada sejarah Amerika. Bukan melalui wajib militer atau ala era perang dunia, melainkan melalui perekrutan yang dibarengi dengan "program penghapusan utang."
"Rata-rata warga Amerika berusia 18 hingga 34 tahun menanggung utang non-hipotek, yang mencakup pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, kredit kendaraan, dan pinjaman pribadi, dengan nilai lebih dari 40 ribu dolar AS, bahkan beberapa estimasi menyebutkan angka hingga 100 ribu dolar AS," demikian beber Jaff.
"Inilah kelompok demografis yang dibutuhkan Pentagon. Sebuah program perekrutan dengan insentif penghapusan utang yang dikelola pemerintah federal-yang melunasi sepenuhnya pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, dan pinjaman lainnya setelah masa tugas 24 atau 36 bulan, serta memperluas cakupan *GI Bill, akan memicu minat sukarelawan dalam jumlah besar."
Menurut Jaff, langkah ini merupakan tindakan yang lazim dilakukan negara AS saat membutuhkan personel yang tidak bisa diperoleh melalui cara-cara biasa.
"Perang Dunia II menawarkan The GI Bill. Perang Vietnam menawarkan penundaan wajib militer bagi mahasiswa. Perang pasca-9/11 menawarkan bonus perekrutan dan jalur kewarganegaraan," papar Jaff.
"Perang melawan Iran nantinya perlu menawarkan keringanan utang. Kondisi ekonomi warga Amerika berusia 20-an dan 30-an yang terlilit utang menjadikan skema ini sebagai mekanisme konversi paling efisien yang tersedia bagi Pentagon dan pemerintahan Trump," ia menambahkan.
Dari sisi moral, ide ini mungkin terasa tidak nyaman. Namun, Jaff menilai negara menciptakan tentara yang dibutuhkannya melalui insentif yang efektif bagi populasi yang mereka miliki.
(bac)

1 hour ago
1

















































