Jakarta, CNN Indonesia --
Swiss menggelar referendum soal pembatasan populasi penduduk pada Minggu (14/6). Namun, usulan itu ditolak berbagai pihak.
Usulan itu kurang lebih bicara soal rencana Swiss untuk membatasi maksimal populasi di angka 10 juta jiwa pada 2050.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, populasi Swiss telah melampaui 9,1 juta jiwa. Jika laju pertumbuhan penduduk berlanjut, jumlah tersebut diperkirakan mencapai 10 juta jiwa sebelum 2050.
Jika usulan disetujui, pemerintah akan memberlakukan pembatasan ketat terhadap reunifikasi keluarga, izin tinggal, dan imigrasi. Rencana itu diberlakukan jika jumlah penduduk mencapai 9,5 juta sebelum 2050.
Usulan ini diinisiasi oleh Partai SVP, partai sayap kanan yang memiliki jumlah kursi terbanyak di parlemen. Selama bertahun-tahun, partai ini telah memicu sentimen anti-imigran, terutama yang berkaitan dengan pekerja dari negara-negara Uni Eropa.
Mengutip The Guardian, Partai SVP bersikeras tentang diperlukannya 'inisiatif berkelanjutan' untuk mengatasi peningkatan populasi. Menurut mereka, peningkatan populasi dapat memberikan tekanan terhadap infrastruktur Swiss, perumahan, program sosial, sumber daya alam, dan cara hidup.
Populasi Swiss telah tumbuh jauh lebih cepat daripada negara-negara Uni Eropa di sekitarnya. Dalam dua dekade terakhir, sebagian besar laju pertumbuhan penduduk di Swiss didorong oleh para imigran dari negara-negara Uni Eropa. Sekitar 27 persen penduduk Swiss bukanlah warga negara asli.
Ditolak banyak pihak
Kendati demikian, usulan ini ditolak oleh banyak pihak. Sebagian masyarakat yang memberikan suaranya telah menolak usulan tersebut.
Total, sekitar 54,79 persen menentang usulan tersebut, sedangkan 45,21 persen mendukungnya. Tingkat paritisipasinya sendiri berada di angka 58,86 persen.
Urs Bieri, dari lembaga survei GFS Bern, mengatakan bahwa inisiatif itu gagal disahkan lantaran masyarakat tak yakin dengan rencana tersebut. Masyarakat juga khawatir akan efek sampingnya.
"Masyarakat khawatir tentang konsekuensi negatif terhadap hubungan Swiss dengan Uni Eropa dan bagi pasar tenaga kerja," ujar dia, mengutip Reuters.
Uni Eropa sendiri dikenal sebagai mitra dagang terbesar Swiss. Banyak pihak khawatir referendum ini bisa mengancam akses Swiss ke pasar Eropa.
Selain itu, ada juga perasaan bahwa dalam kondisi global saat ini, membatasi populasi dianggap sebagai langkah yang kurang bijak dilakukan oleh negara kecil.
Beberapa menteri juga menentang inisiatif tersebut. Mereka memperingatkan bahwa hal ini akan mengancam stabilitas dan merusak perekonomian nasional.
Para pengusaha juga khawatir pembatasan tersebut akan membatasi akses terhadap pekerja asing.
Sistem demokrasi langsung Swiss memang memungkinkan adanya inisiatif atau usulan populis yang diajukan ke referendum jika mendapatkan 100 ribu pendukung dalam waktu 18 bulan. Agenda ini biasanya diadakan empat kali dalam setahun.
Meski banyak negara memiliki batasan dalam hal imigrasi, namun belum ada satupun yang melakukan pemungutan suara untuk membatasi jumlah penduduk.
(asr)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
5















































