Trump Takuti Italia soal Nuklir Iran, Padahal Baru AS Pakai Bom Atom

6 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mulai merenggang.

Hal itu dipicu komentar Trump terhadap sosok Paus Leo XIV yang dinilai merendahkan seperti menyatakan "Lemah".

Sementara Meloni membela sosok Paus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah benar dan wajar baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk semua bentuk perang," kata Meloni dalam sebuah pernyataan, dikutip AFP.

Tak berhenti di sana, Trump juga terus mengomentari Meloni yang tak mau bantu buka Selat Hormuz hingga menyinggung senjata nuklir Iran.

"Karena dia tidak ingin membantu kami dengan NATO, dia tidak ingin membantu kami menyingkirkan senjata nuklir. Ini sangat berbeda dari yang saya pikirkan," katanya kepada media Italia Corriere della Sera, Rabu (15/4).

Trump kemudian menyinggung senjata nuklir Iran.

"Dia tidak peduli jika Iran memiliki senjata nuklir dan akan meledakkan Italia dalam dua menit jika memiliki kesempatan," kata Trump.

Namun dalam sejarah perlombaan senjata nuklir, saat ini ini satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata pemusnah masal itu hanya Amerika Serikat.

Dikutip dari laman History, disebutkan diplomasi atom mengacu pada upaya untuk menggunakan ancaman perang nuklir untuk mencapai tujuan diplomatik. Setelah uji coba bom atom pertama yang berhasil pada tahun 1945, para pejabat AS segera mempertimbangkan potensi manfaat non-militer yang dapat diperoleh dari monopoli nuklir Amerika.

Pada tahun-tahun berikutnya, terdapat beberapa kesempatan di mana pejabat pemerintah menggunakan atau mempertimbangkan diplomasi atom.

"Pada pukul 8.15 pagi tanggal 6 Agustus 1945, kota Hiroshima di Jepang hancur akibat bom atom pertama yang digunakan sebagai senjata perang. Bom tersebut, yang dijuluki 'Little Boy', dijatuhkan dari pesawat pembom USAAF B29 'Enola Gay' dan meledak sekitar 1.800 kaki di atas kota. Dengan daya ledak setara sekitar 12,5 kiloton TNT, bom tersebut menghanguskan 5 mil persegi pusat kota menjadi abu dan menyebabkan kematian sekitar 120.000 orang dalam empat hari pertama setelah ledakan. Banyak yang langsung menguap akibat ledakan, sementara yang lain meninggal kemudian akibat luka bakar dan radiasi," demikian laman tersebut memberi penjelasan.

Bahkan kebijakan untuk membuat senjata nuklir menjadi keputusan bersama kala itu. Saat memimpin pengembangan senjata nuklir AS, Presiden Franklin Roosevelt membuat keputusan untuk tidak memberi tahu Uni Soviet tentang perkembangan teknologi tersebut.

Setelah kematian Roosevelt, Presiden Harry Truman harus memutuskan apakah akan melanjutkan kebijakan merahasiakan informasi nuklir ini.

Pada akhirnya, Truman menyebutkan keberadaan bom yang sangat merusak kepada Perdana Menteri Soviet Joseph Stalin pada pertemuan Sekutu di Potsdam, tetapi ia tidak memberikan rincian spesifik tentang senjata atau penggunaannya.

Pada pertengahan tahun 1945, jelas bahwa Uni Soviet akan memasuki perang di Pasifik dan dengan demikian berada dalam posisi untuk memengaruhi keseimbangan kekuatan pascaperang di kawasan tersebut.

Para pejabat AS menyadari bahwa kecil kemungkinan untuk mencegah hal ini, meskipun mereka lebih memilih pendudukan Jepang yang dipimpin AS daripada pendudukan bersama seperti yang telah diatur untuk Jerman.

Beberapa pembuat kebijakan AS berharap bahwa monopoli AS atas teknologi nuklir dan demonstrasi kekuatan penghancurnya di Jepang dapat memengaruhi Soviet untuk membuat konsesi, baik di Asia maupun di Eropa.

Truman tidak mengancam Stalin dengan bom tersebut, melainkan menyadari bahwa keberadaannya saja akan membatasi pilihan Soviet dan dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Soviet.

Bahkan setelah itu, dalam perang Vietnam, AS juga kembali ingin melakukan hal yang sama. Dalam dua dekade pertama Perang Dingin, terdapat sejumlah kesempatan di mana diplomasi atom digunakan oleh kedua pihak yang bertikai.

Selama Blokade Berlin tahun 1948-49, Presiden Truman memindahkan beberapa pesawat pembom B-29 yang mampu mengirimkan bom nuklir ke wilayah tersebut untuk memberi sinyal kepada Uni Soviet bahwa AS mampu melakukan serangan nuklir dan bersedia melaksanakannya jika diperlukan."

Selama Perang Korea, Presiden Truman sekali lagi mengerahkan B-29 untuk memberi sinyal tekad AS. Pada tahun 1953, Presiden Dwight D Eisenhower mempertimbangkan, tetapi akhirnya menolak gagasan menggunakan paksaan nuklir untuk memajukan negosiasi perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri perang di Korea. Sebagai perubahan haluan, pada tahun 1962, pengerahan rudal nuklir Soviet ke Kuba untuk mencoba memaksa konsesi AS kepada Eropa menjadi contoh lain dari diplomasi atom.

Terlepas dari banyaknya ancaman yang dilontarkan selama Perang Dingin, senjata atom tidak digunakan dalam konflik apa pun setelah Perang Dunia Kedua. Meskipun keberadaan senjata nuklir dapat terus berfungsi sebagai pencegah, kegunaan diplomatiknya memiliki batasnya.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |