Jakarta, CNN Indonesia --
Ambisi culas Israel untuk merebut Komplek Masjid Al Aqsa tidak pernah padam, bahkan sejak negara itu berdiri 1948.
Berbagai upaya mereka lalukan, termasuk dengana cara paksa, mulai dari penggalian terowongan di sekitar masjid, menutup dan membatasi umat Islam berkunjung hingga secara provokatif mendatanginya beramai-ramai.
Upaya itu kini makin nyata, sebab pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump disebut "secara aktif berupaya" mencabut status Yordania sebagai wali penjaga historis kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem, Palestina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS juga dilaporkan bersekongkol mendorong skema baru yang akan membuat pengelolaan situs suci umat Islam itu lebih selaras dengan kepentingan Israel. Hal itu diungkap sejumlah sumber kepada Middle East Eye (MEE).
Sejumlah pejabat AS, Yordania, dan Palestina, serta sumber Barat dan negara-negara Teluk Arab, mengatakan kepada MEE bahwa dalam rencana tersebut AS dan Israel berupaya menghentikan hak perwalian Masjid Al Aqsa yang selama ini dipegang otoritas Waqf Islam dan didukung Yordania.
AS dan Israel disebut berusaha menggantikan wewenang dan peran Waqf Islam atas Al Aqsa dengan badan baru bentukan pemerintah Israel. Badan ini nantinya akan mendeklarasikan Masjid Al Aqsa sebagai "pusat multi-agama".
Menurut para pejabat yang meminta identitas mereka dirahasiakan karena membahas isu sensitif itu, "pengaturan baru" tersebut akan memberikan akses setara bagi Yahudi ke situs Muslim tersebut dan secara resmi mengizinkan ibadah Yahudi dalam kelompok besar.
Rencana AS dan Israel terkait kepengurusan Masjid Al Aqsa ini dipelopori menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, meski ia tidak memiliki jabatan resmi di pemerintahan AS. Kushner dikabarkan dibantu Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee.
Sumber-sumber itu mengatakan Israel pertama kali mengajukan ide tersebut kepada pemerintahan Trump hampir satu dekade lalu. Namun, tak lama setelah Huckabee menjabat sebagai duta besar AS untuk Israel tahun lalu, ia disebut "berulang kali" mendesak Washington agar merealisasikan rencana itu.
Jika rencana ini terealisasi, maka secara total akan mengubah status quo Masjid Al Aqsa, yang selama ini yang diakui secara internasional sebagai situs beribadah umat Islam.
Bukan hanya itu, umat Yahudi yang awalnya dilarang beribadah di kompleks masjid, akan bisa beribadah di sana bahkan secara beramai-ramai dengan rencana baru itu.
Dalam rencana itu, Israel juga disebut akan memiliki pengaruh besar dalam penunjukan imam, khatib, dan pejabat senior masjid, serta terlibat dalam persetujuan materi khutbah Jumat.
Dua pejabat AS mengatakan kepada MEE bahwa Washington telah menyusun dokumen mengenai visi mereka terhadap masa depan masjid tersebut. Mereka menyebut pemerintahan Trump ingin menghapus identitas Al Aqsa yang kental dengan Islam dan mengubahnya menjadi objek wisata ikonik yang menampung tiga agama Abrahamik.
Seorang pejabat Barat dan sumber yang mendapat pengarahan dari pemerintah Yordania mengatakan, berdasarkan proposal yang mereka lihat, negara-negara Arab dapat diberikan pengawasan "secara bergiliran" atas kompleks Masjid Al-Aqsa.
Temple Mount
Orang-orang Yahudi di Israel menyebut Masjid Al Aqsa di Kota Yerussalem itu dengan sebutan "Temple Mount".
Begitu pula dengan media-media barat. Penyebutan ini bukan tanpa alasan tapi punya makna menghapus jejak sejarah Islam di Palestina dan sekitarnya. Cendekiawan Islam Nurcholis Madjid dalam bukunya "Pintu-Pintu Menuju Tuhan" (Paramadina, 1995) menuliskan bahwa "Temple Mount" atau "Bukit Kuil" tidak dikenal di kalangan kaum Muslimin.
Bahkan, kata cendekiawan yang wafat pada 29 Agutus 2005 itu, banyak media di Indonesia mengambil begitu saja nama "Temple Mount" tanpa tahu makna di baliknya.
"Padahal istilah Inggris Temple Mount itu berkonotasi kuat mengingkari hak Islam dan kaum Muslimin atas tanah suci itu karena anggapan bahwa kaum Muslimin dahulu merampasnya dari kaum Yahudi," tulisnya.
Siapa yang berhak atas tanah itu? Kalau berdebat dari sisi teologi maka masing-masing punya argumen dan tidak netral. Namun otoritas Yordanian yang diberi mandat sudah lama berlangsung jauh sebelum Israel berdiri.
Selama berabad-abad pada masa kekhalifahan Ottoman, kota Yerusalem dan Masjid Al Aqsa dijaga dengan penuh kehormatan dan martabat, dengan umat Muslim yang bertanggung jawab atas administrasi kota. Namun, semua ini berubah ketika gerakan Zionis di Eropa muncul dengan tujuan menciptakan negara Yahudi di tanah Palestina yang mayoritas Muslim.
Gerakan Zionis ini, yang didukung oleh Inggris, semakin diperkuat selama Perang Dunia I ketika Inggris merebut Yerusalem dan mengakhiri delapan abad pemerintahan Muslim.
Saat tiba di Palestina pada tahun 1917, mereka menemukan tanah yang 90% penduduknya adalah orang Arab dan kurang dari 56.000 orang Yahudi (yang hanya 5% adalah Yahudi Palestina asli, dengan mayoritas adalah mereka yang melarikan diri dari penganiayaan Eropa dalam beberapa dekade terakhir).
Inggris mengizinkan umat Muslim untuk mengendalikan Masjid Al Haram selama periode ini, seperti dikutip dari laman visitmasjidalaqsa.com.
Lima tahun setelah penaklukan Yerusalem oleh Inggris, pekerjaan restorasi pertama abad ke-20 di Masjid Al Aqsa berlangsung, dan beberapa tahun kemudian pada tahun 1924 Trans-Yordania mengambil alih pengelolaan Masjid Al Aqsa.
Pada tahun 1947, sebelum Inggris menyerahkan masalah Palestina kepada PBB, orang Yahudi memiliki kurang dari 6% dari total tanah Palestina.
Karena alasan ini, ketika Majelis Umum PBB merekomendasikan (meskipun hal ini di luar kewenangan mereka menurut Piagam PBB) pembentukan "negara Yahudi" yang akan mencakup 54% dari tanah Palestina, penduduk asli Palestina menolak usulan tersebut.
Pada tahun 1948, setelah perang dan berbagai pembantaian serta kekejaman yang dilakukan oleh kaum Zionis, orang-orang Yahudi mendirikan "Israel" di 78% wilayah Palestina, dan merebut sekitar 85% Yerusalem. Legiun Arab Yordania menguasai Tepi Barat - termasuk 11% bagian timur Yerusalem yang meliputi Kota Tua dan Masjid Al Aqsa.
Barulah pada tahun 1967, setelah perang lanjutan, Israel secara ilegal menduduki Yerusalem Timur dan mengklaim menyatukan Yerusalem sebagai bagian dari Israel.
Langkah ini, dan hingga kini, ditentang dan tidak diakui oleh komunitas internasional. Setelah perebutan Yerusalem dan protes yang menyertainya, otoritas Yahudi dengan cepat menyerahkan kembali Masjid Al Aqsa ke kendali Muslim.
Namun sejak itu, tokoh-tokoh Israel terkemuka untuk mendirikan tempat kuil Yahudi dan mencaplok Al Aqsa makin brutal.
Sejak tahun 1967, banyak otoritas Israel telah mengeluarkan keputusan yang mengizinkan orang Yahudi untuk beribadah di lokasi Masjid Al Aqsa, dan banyak organisasi telah melobi pejabat Israel untuk memulai proses pembangunan kembali tempat ibadah Yahudi di tanah suci Masjid Al Aqsa.
Pada tahun 1969, kebakaran yang disebabkan oleh seorang ekstremis Zionis menghancurkan mimbar yang dipasang oleh Salahuddin Ayyubi, panglima perang yang ikut membebaskan Yerusalem.
Mimbar tersebut dianggap sebagai salah satu yang terindah di dunia dan dibangun dengan lebih dari 10.000 potongan kayu cedar dan kayu lainnya yang saling terkait, gading, dan mutiara yang dipasang tanpa setetes lem atau paku sekalipun.
Sebagian besar kerusakan akibat kebakaran membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun untuk diperbaiki, karena Israel tidak mengizinkan sumber daya yang memadai masuk ke Masjid Al Aqsa.
Insiden ini membuat Dewan Keamanan PBB bersidang dan mengeluarkan resolusi nomor 271 tahun 1969 mengecam keras Israel dan menuntut mereka mematuhi resolusi terkait status Yerusalem.
Pada Maret 2013, Raja Yordania Abdullah II menandatangani perjanjian dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas yang mempertahankan dan menegaskan kembali status quo bahwa Raja Yordania adalah penjaga resmi situs-situs suci di Yerusalem dan bahwa ia berhak untuk mengerahkan semua upaya hukum untuk melestarikannya, terutama Masjid Al Aqsa.
Pada November 2013, rancangan undang-undang Israel diajukan di Knesset (Parlemen Israel) yang memberikan hak kepada orang Yahudi untuk beribadah di Masjid Al Aqsa.
Perkembangan ini merupakan hasil dari lobi intensif selama 40 tahun oleh kaum nasionalis yang ingin menghancurkan Masjid Al Aqsa dalam bentuknya saat ini, dan menggantinya dengan tempat ibadah Yahudi.
Pada Oktober 2014, otoritas Israel menutup Masjid Al Aqsa untuk pertama kalinya sejak 1967 yang memicu gelombang protes dunia muslim. Namun sejak saat itu pula, Israel makin berani merangsek lebih jauh demi menguasai masjid yang disucikan Umat Islam dunia tersebut.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
6















































