Bukti Israel Pakai Senjata Pemusnah Buat Warga Gaza Lenyap Menguap

21 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Israel diyakini menggunakan senjata termal dan termobarik untuk membunuh ribuan warga di Jalur Gaza, Palestina. Senjata ini membuat jasad seolah menguap atau hilang tanpa jejak.

Dalam laporan investigasi Al Jazeera berjudul "The Rest of the Story", setidaknya ada 2.842 warga Palestina yang hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ribuan warga ini disebut merupakan korban serangan bom termal dan termobarik, senjata yang dapat melenyapkan target tanpa meninggalkan jejak selain percikan darah atau potongan kecil tubuh.

Yasmin Mahani, seorang ibu yang tinggal di Gaza City, adalah satu dari ribuan warga Gaza yang menjadi saksi bagaimana manusia hilang tanpa jejak setelah serangan Israel.

Pada dini hari tanggal 10 Agustus 2024, Mahani menyusuri reruntuhan sekolah Al Tabin yang masih berasap usai digempur Israel. Ia mencari anak dan suaminya yang berada di lokasi ketika serangan terjadi.

Di sana, Mahani berhasil menemukan suaminya. Akan tetapi, tak ada jejak putranya, Saad.

Mahani mencari ke sana ke mari, dari rumah sakit hingga pemakaman, namun hasilnya nihil. Saad tak ada di mana pun.

"Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jenazah untuk dimakamkan," ucapnya kepada Al Jazeera, dalam 'The Rest of the Story'.

"Saya masuk ke masjid dan mendapati diri saya [hanya] menginjak daging dan darah," katanya.

Apa itu senjata termal dan termobarik?

Para ahli dan saksi mata mengaitkan fenomena ini dengan dampak dari penggunaan sistematis senjata termal dan termobarik. Senjata yang dilarang secara internasional ini mampu menghasilkan suhu lebih dari 3.500 derajat Celsius.

Ahli militer Rusia, Vasily Fatigarov menjelaskan, senjata termobarik tidak hanya membunuh, tetapi juga melenyapkan materi. Tidak seperti bahan peledak konvensional, senjata ini menyebarkan gumpalan awan bahan bakar yang menciptakan bola api luar biasa besar dan efek vakum.

"Untuk memperpanjang waktu pembakaran, bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan ke dalam campuran kimia. Ini meningkatkan suhu ledakan hingga antara 2.500 sampai 3.000 derajat Celsius," kata Fatigarov.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Dr. Munir Al Bursh menjelaskan dampak biologis dari panas ekstrem tersebut pada tubuh manusia yang 80 persennya terdiri dari air. Ia menekankan, titik didih air adalah 100 derajat Celsius.

"Ketika tubuh terpancar energi lebih dari 3 ribu derajat Celsius yang dikombinasikan dengan tekanan dan oksidasi yang sangat besar, cairan akan mendidih seketika. Jaringan akan menguap dan berubah menjadi abu. Secara kimiawi, ini tidak bisa dihindari," ucapnya.

Berdasarkan penyelidikan, panas yang sangat tinggi ini sering kali dihasilkan oleh tritonal, campuran TNT dan bubuk aluminium yang digunakan dalam bom buatan Amerika Serikat seperti MK-84.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..


Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |