Jakarta, CNN Indonesia --
Eks Kepala Staf Militer Israel, Jenderal Gadi Eisenkot, bersumpah akan mengalahkan perdana menteri petahana, Benjamin Netanyahu, dalam pemilu 27 Oktober mendatang.
Salah satu alasannya yakni membalas kematian sang anak yang terbunuh di Jalur Gaza Palestina.
Pemilu tersebut dinilai bisa menjadi salah satu yang paling penting dalam sejarah hampir 80 tahun Israel. Pemungutan suara digelar setelah bertahun-tahun Israel berperang di berbagai front dan menghadapi pergolakan sosial yang semakin tajam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi itu juga memberikan tekanan besar terhadap posisi Israel di mata komunitas internasional.
Meski demikian, pergantian pemerintahan belum tentu membawa perubahan besar terhadap kebijakan Israel terkait perang di Jalur Gaza maupun pendudukan di Tepi Barat.
Berdasarkan sejumlah jajak pendapat, koalisi sayap kanan Netanyahu dan partai Likud akan menghadapi blok oposisi yang dipimpin Eisenkot.
Mantan letnan jenderal Angkatan Pertahanan Israel (IDF) itu mendirikan partai baru bernama Yashar, yang dalam bahasa Ibrani berarti "lurus" atau "jujur".
Nama tersebut mencerminkan pesan politik Eisenkot yang menganggap pemerintahan saat ini tidak cukup terbuka kepada masyarakat setelah empat tahun yang diwarnai tuduhan penghambatan dan penipuan.
"Anda harus memahami bahwa Eisenkot adalah kebalikan dari Netanyahu," kata profesor ilmu politik di Universitas Ibrani Yerusalem, Gideon Rahat, kepada ABC.
"Eisenkot telah kehilangan putra dan keponakannya dalam perang [Gaza]. Setidaknya salah satu anak Netanyahu menghabiskan sebagian besar masa perang di Miami," kata Rahat.
"Netanyahu adalah seorang pemain. Dia tahu cara berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik," katanya.
"Eisenkot, bahasa Inggrisnya tidak begitu bagus. Dia cukup, menurutku, orang yang populer orang biasa," tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan salah satu kandidat Eisenkot, mantan birokrat senior Kementerian Keuangan Israel, Shaul Meridor.
"Ketika dia mengatakan sesuatu, dia benar-benar bersungguh-sungguh dan dia orang yang baik," kata Meridor.
"Dari banyak interaksi yang kami lakukan, saya melihat seorang pria yang benar-benar mendalami berbagai hal, sampai ke intinya, dan mencoba menyelesaikannya," lanjutnya.
Dukungan terhadap Eisenkot dilaporkan meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Survei Channel 13 menunjukkan Yashar berpotensi menjadi partai terbesar di Knesset dengan 22 dari 120 kursi. Angka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan Likud yang diproyeksikan memperoleh 21 kursi.
Jika Yashar bergabung dengan sejumlah partai oposisi utama, blok Eisenkot diperkirakan memperoleh 53 kursi. Sementara itu, koalisi Netanyahu juga diproyeksikan mengamankan 53 kursi.
Namun, kedua kubu masih belum mencapai cukup kursi yang dibutuhkan untuk menguasai mayoritas mutlak di Knesset. Mereka kemungkinan harus membentuk pemerintahan minoritas atau mencari dukungan dari partai-partai yang dipimpin warga Palestina di Israel.
Survei lain, Netanyahu masih kuat
Hasil berbeda muncul dari survei Channel 14 yang dikenal sebagai salah satu stasiun televisi paling konservatif di Israel dan kerap dianggap dekat dengan pemerintah.
Survei tersebut menempatkan Netanyahu dan Likud dalam posisi yang lebih kuat, bahkan berpotensi mempertahankan mayoritas bersama partai-partai dalam koalisi sayap kanan saat ini.
"Setiap pemilihan itu penting, tetapi saya percaya bahwa pemilihan kali ini benar-benar penting bagi banyak orang," kata Rahat kepada program 7.30.
"Ini adalah pemilu yang akan menunjukkan, akan mengindikasikan ke mana Israel akan menuju, menjadi Sparta yang sangat kanan dan religius, seperti yang disebutkan Netanyahu, atau demokrasi liberal di antara demokrasi liberal di dunia," ujarnya.
Yashar berusaha memanfaatkan kemarahan masyarakat terhadap Netanyahu dan koalisinya untuk merebut dukungan pemilih dari kalangan tengah.
Dalam sebuah pertemuan komunitas di Motza Illit, wilayah pinggiran Yerusalem, Meridor bertanya kepada warga mengenai hal yang paling mereka takutkan.
Biaya hidup menjadi salah satu kekhawatiran utama karena Israel kerap masuk daftar negara OECD dengan biaya hidup tertinggi. Namun, warga juga menyebut ancaman perang saudara, konflik berkepanjangan, dan isolasi internasional.
"Saya rasa dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat kepemimpinan kita sebagai kepemimpinan yang tidak berbicara kepada dunia," kata Meridor.
"Selain pemerintahan Trump, yang sangat penting, kita memiliki banyak teman lain di dunia, baik di Amerika Serikat maupun di seluruh Eropa, Australia, Selandia Baru, dan saya pikir kita membutuhkan para pemimpin untuk mulai bersuara," lanjutnya.
"Ya, ada banyak hal yang mungkin tidak kita sepakati, tetapi kita harus berbicara dengan teman-teman kita, dan saya pikir itu adalah sesuatu yang benar-benar dilupakan oleh pemerintah ini," tambahnya.
Meridor menilai Netanyahu sudah tidak lagi memahami kondisi Israel modern.
"Bibi adalah perdana menteri di Israel; dia terpilih," kata Meridor.
"Namun menurut saya, dalam banyak hal, mayoritas warga Israel tidak merasa bahwa dia memiliki nilai-nilai yang sama dengan mereka," katanya.
"Apa yang akan Anda temukan pada Gadi Eisenkot, menurut saya dan orang lain yang bersama kami, adalah Israel yang berbeda," lanjutnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...

2 hours ago
2















































