AS Buka Fakta Baru, Tuduh China Diam-diam Uji Coba Nuklir Bawah Tanah

16 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat membeberkan informasi baru soal dugaan uji coba nuklir bawah tanah yang dilakukan China pada Juni 2020 lalu. 

Asisten Menteri Luar Negeri AS, Christopher Yeaw, mengatakan stasiun seismik jarak jauh di Kazakhstan sempat mencatat "ledakan" dengan magnitudo 2,75. Ledakan itu terdeteksi sekitar 450 mil dari lokasi uji coba Lop Nor di wilayah barat China pada 22 Juni 2020.

"Saya telah meninjau data tambahan sejak saat itu. Saya menilai hampir tidak ada kemungkinan itu bukan ledakan, melainkan satu ledakan tunggal," kata Yeaw, dikutip NBC.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Yeaw juga mengatakan data tersebut tidak sesuai dengan pola ledakan pertambangan.

"Itu juga sama sekali tidak konsisten dengan gempa bumi," ujar Yeaw, mantan analis intelijen dan pejabat pertahanan yang memiliki gelar doktor teknik nuklir.

"Itu adalah... seperti yang Anda harapkan dari uji coba bahan peledak nuklir," tambah dia.

Organisasi Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBTO), lembaga yang bertugas mendeteksi ledakan uji coba nuklir, mengatakan pihaknya mendeteksi dua peristiwa seismik.

"Kami mendeteksi dua peristiwa seismik yang sangat kecil dengan selang waktu 12 detik," demikian pernyataan CTBTO, dikutip NPR.

Namun CTBTO menambahkan data yang tersedia belum cukup untuk memastikan tuduhan tersebut.

"Dengan data ini saja, tidak mungkin menilai penyebab peristiwa ini secara pasti," tambah pernyataan itu.

Penilaian serupa juga disampaikan para ahli independen. Kepala seismologi dan verifikasi di NORSAR, Ben Dando, mengatakan perbedaan rasio gelombang seismik memang konsisten dengan karakteristik ledakan.

Namun, sinyal yang terekam lemah dan hanya terdeteksi di satu stasiun. Dengan keterbatasan itu dan faktor lainnya, ia menilai peristiwa itu masih mungkin merupakan fenomena alam.

"Saya tidak akan mengatakan ada bukti yang benar-benar kuat dan meyakinkan," kata Dando kepada NPR.

"Saat ini, kita belum dapat memastikan atau membantah apakah uji coba nuklir benar-benar terjadi," tambah dia.

Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington AS menyebut tuduhan uji nuklir China "tidak berdasar" dan hanya dalih untuk melanjutkan pengujian nuklir AS.

"Ini adalah manipulasi politik yang bertujuan mengejar hegemoni nuklir dan menghindari tanggung jawab pelucutan senjata nuklirnya sendiri," kata juru bicara kedutaan China, Liu Pengyu, dalam pernyataan melalui email.

"China mendesak AS menegaskan kembali komitmen negara-negara pemilik senjata nuklir untuk tidak melakukan uji coba nuklir serta menjaga upaya pelucutan dan pencegahan penyebaran senjata nuklir," tambah Liu.

Presiden AS Donald Trump menekan China agar bergabung dengan AS dan Rusia dalam merundingkan perjanjian pengganti New START.

Perjanjian itu berakhir pada 5 Februari, dan memicu kekhawatiran dunia berada di ambang perlombaan senjata nuklir yang semakin cepat.

Menurut Pentagon, China kini memiliki lebih dari 600 hulu ledak operasional dan terus memperluas kekuatan nuklir strategisnya, yang diperkirakan melampaui 1.000 hulu ledak pada 2030.

(rnp/dna)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |