Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya melunak dan bersedia memulai perundingan nuklir dengan Amerika Serikat menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump jika Teheran kekeh menolak berdialog.
Teheran menegaskan menginginkan jalur diplomasi namun tetap mewanti-wanti akan memberikan respons AS tanpa batas terhadap setiap bentuk agresi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Presiden Pezeshkian telah memerintahkan pembukaan perundingan dengan Amerika Serikat (terkait program nuklir Iran)," demikian bunyi laporan kantor berita Iran, Fars, Senin (2/2), mengutip sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya.
Laporan serupa juga dimuat oleh surat kabar pemerintah Iran lainnya serta harian reformis Shargh.
Seorang pejabat negara Arab mengatakan kepada AFP, pihak Iran dan AS bahkan sudah merencanakan pertemuan yang kemungkinan akan digelar di Turki pada Jumat. Pertemuan ini berlangsung setelahada intervensi dari Mesir, Qatar, Turki, dan Oman untuk membahas isu sensitif tersebut.
Mengutip dua sumber, situs berita AS Axios melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi lah yang diperkirakan akan bertemu dengan utusan AS Steve Witkoff di Istanbul untuk membahas kemungkinan kesepakatan terkait isu nuklir ini.
Dalam wawancara dengan CNN pada Minggu, Araghchi mengatakan "Presiden Trump mengatakan tidak ada senjata nuklir, dan kami sepenuhnya setuju. Kami sepenuhnya setuju dengan itu. Itu bisa menjadi kesepakatan yang sangat baik."
Ia bahkan menambahkan bahwa sebagai imbalan dari kesepakatan nuklir, "kami mengharapkan pencabutan sanksi".
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan Teheran tengah menyiapkan metode dan kerangka perundingan yang akan siap dalam beberapa hari ke depan, dengan pesan-pesan antara kedua pihak disalurkan melalui para aktor regional.
Upaya perundingan ini dimulai ketika AS dan Iran terus berada dalam ketegangan, menyusul ancaman Trump yang ingin melancarkan aksi militer ke Iran setelah mengirimkan armada kapal induk ke Timur Tengah.
Ancaman agresi militer ini muncul merespons demonstrasi berdarah yang berlangsung di Iran sejak akhir Desember lalu dan telah menewaskan ribuan orang.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, telah mengultimatum setiap serangan AS ke tanah airnya akan memicu "perang regional".
Turki lantas memimpin dorongan diplomatik untuk meredakan ketegangan. Menlu Iran Araghchi bahkan telah mengunjungi Istanbul pekan lalu dan melakukan pembicaraan dengan sejumlah mitra regional, termasuk di Mesir, Arab Saudi, dan Yordania.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi pada Senin juga meyakinkan Araghchi bahwa kerajaan itu "tidak akan menjadi medan pertempuran dalam konflik regional apa pun atau menjadi landasan peluncuran aksi militer terhadap Iran".
(rds)

2 hours ago
3

















































