Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Myanmar Min Aung Hlaing telah tiba di India pada 11 Juni lalu untuk menjalani kunjungan resmi selama empat hari.
Kunjungan tersebut menjadi lawatan luar negeri pertamanya sejak menjabat sebagai presiden dan dinilai memiliki makna simbolis sekaligus strategis bagi arah kebijakan luar negeri Myanmar.
Selama berada di India, Hlaing dijadwalkan mengunjungi Bodh Gaya, menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Narendra Modi di New Delhi, menghadiri forum bisnis, serta melakukan kunjungan ke Mumbai untuk bertemu kalangan industri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat geopolitik Paul Antonopoulos menilai pilihan India sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertama Hlaing bukanlah kebetulan. Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan keinginan Myanmar untuk memperluas ruang gerak diplomatiknya di tengah besarnya pengaruh China.
"Pilihan Hlaing untuk mengunjungi India menunjukkan bahwa Myanmar menginginkan ruang gerak strategis. Negara itu mungkin membutuhkan China, tetapi tidak ingin terjebak dalam pengaruhnya," ujar Antonopoulos.
Selama ini China merupakan mitra eksternal paling berpengaruh bagi Myanmar. Beijing memberikan dukungan diplomatik kepada Naypyidaw, berinvestasi besar dalam berbagai proyek infrastruktur, serta memiliki pengaruh kuat di kawasan perbatasan Myanmar melalui hubungan dengan sejumlah kelompok bersenjata etnis.
Namun, hubungan tersebut juga diwarnai ketidaknyamanan yang telah lama berkembang di kalangan elite maupun masyarakat Myanmar. Meski bergantung pada dukungan China, Myanmar tetap berupaya menjaga kedaulatannya dan menghindari ketergantungan yang berlebihan terhadap Beijing.
Sentimen tersebut menguat setelah muncul laporan mengenai dugaan pembangunan pagar oleh China di sejumlah wilayah perbatasan Myanmar di Negara Bagian Shan Utara.
Perbatasan China-Myanmar
Media independen Myanmar, The Irrawaddy, melaporkan bahwa pemerintah Myanmar diduga menekan sejumlah media lokal untuk menghapus pemberitaan terkait tuduhan pembangunan pagar oleh China di dalam wilayah Myanmar.
Dugaan pelanggaran batas disebut terjadi di sekitar Chinshwehaw, Kyukok-Pansai, dan Namtit, wilayah yang berada di area pengaruh kelompok bersenjata etnis Myanmar National Democratic Alliance Army (MNDAA) dan United Wa State Army (UWSA).
Menurut sejumlah laporan lokal, warga di Namtit mengklaim pagar yang dibangun China telah bergeser masuk ke wilayah Myanmar hingga belasan meter, bahkan lebih dari 100 meter di beberapa titik.
Antonopoulos menilai persoalan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sengketa batas wilayah.
"Jika pagar China memang dibangun di dalam wilayah Myanmar, atau bahkan hanya dipersepsikan demikian, maka persoalan itu jauh melampaui sekadar sengketa batas wilayah lokal," tulisnya.
Menurut dia, kawasan perbatasan China-Myanmar merupakan wilayah yang kompleks karena menjadi titik pertemuan berbagai kepentingan, mulai dari perdagangan lintas batas, kelompok bersenjata etnis, perdagangan narkotika, mineral tanah jarang, jaringan penipuan siber, hingga pengaruh geopolitik China.
Dalam konteks tersebut, India dinilai menawarkan alternatif yang berbeda bagi Myanmar. Meski tidak memiliki kapasitas investasi maupun pengaruh sebesar China, India dianggap mampu memberikan ruang kerja sama yang lebih seimbang.
"India menawarkan sesuatu yang sulit diberikan China, yaitu hubungan yang tidak terlalu dibebani oleh dominasi," kata Antonopoulos.
India juga memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas Myanmar. Kedua negara berbagi perbatasan darat sepanjang 1.643 kilometer yang membentang melalui Arunachal Pradesh, Nagaland, Manipur, dan Mizoram.
Stabilitas Asia Selatan dan Tenggara
Ketidakstabilan di Myanmar selama beberapa tahun terakhir berdampak langsung terhadap kawasan timur laut India melalui arus pengungsi, perdagangan narkotika, penyelundupan senjata, hingga pergerakan kelompok pemberontak lintas batas.
Bagi New Delhi, Myanmar juga merupakan bagian penting dari kebijakan Act East Policy yang bertujuan memperkuat konektivitas dengan Asia Tenggara. India telah menggelontorkan investasi besar untuk proyek Kaladan Multi-Modal Transit Transport Project dan Jalan Raya Trilateral India-Myanmar-Thailand, meski pelaksanaannya kerap terhambat situasi keamanan di Myanmar.
Antonopoulos menilai India perlu tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan strategis dan perhatian terhadap krisis politik serta kemanusiaan yang masih berlangsung di Myanmar. Menurutnya, New Delhi perlu mempertahankan komunikasi tidak hanya dengan pemerintah Myanmar, tetapi juga dengan kelompok etnis, masyarakat sipil, dan komunitas perbatasan.
Lebih jauh, ia menilai kunjungan Hlaing memiliki makna yang melampaui agenda diplomatik biasa.
"Kunjungan ini merupakan pesan kepada India, China, ASEAN, dan rakyat Myanmar sendiri bahwa Myanmar sedang mencari alternatif," tulis Antonopoulos.
Menurut dia, kunjungan tersebut menunjukkan bahwa besarnya pengaruh suatu negara tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan yang diberikan negara lain.
"Bagi China, ini merupakan pengingat bahwa pengaruh tidak serta-merta menghasilkan kepercayaan," tulisnya.
Bagi Myanmar, kunjungan tersebut mencerminkan upaya menjaga keseimbangan hubungan luar negeri di tengah persaingan kekuatan besar di kawasan.
Sementara bagi India, langkah itu membuka peluang untuk memperkuat pengaruh di negara tetangga yang memiliki arti penting bagi keamanan dan stabilitas kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
(dna)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
1

















































