Jakarta, CNN Indonesia --
Panglima militer Iran Jenderal Amir Hatami menuduh Amerika Serikat dan Israel menunggangi demonstrasi berdarah di negara tersebut.
Demo pecah di 92 kota dan menewaskan 36 orang termasuk dua personel polisi, dikutip dari Iran International.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan, Iran tidak akan tinggal diam dan membiarkan diancam oleh kekuatan luar, setelah AS dan Israel mendukung aksi protes anti-pemerintah, pada Rabu (7/1).
"Republik Islam Iran memandang peningkatan retorika permusuhan terhadap bangsa Iran sebagai sebuah ancaman dan tidak akan menoleransi kelanjutannya tanpa memberikan respons," kata Amir Hatami, seperti dikutip kantor berita Fars.
Hatami merupakan panglima angkatan darat Iran namun bukan pejabat militer tertinggi negara itu.
Melansir situs AFP, Hatami memperingatkan bahwa "jika musuh melakukan kesalahan," respons Iran akan lebih kuat dibandingkan perang selama 12 hari dengan Israel pada Juni lalu.
Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan intervensi di Iran jika para demonstran terbunuh.
"Kami memantaunya dengan sangat dekat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya, saya rasa mereka akan mendapat serangan sangat keras dari Amerika Serikat," ujar Trump kepada wartawan pada Minggu.
Sementara itu, PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungannya terhadap aksi protes tersebut.
"Kami berdiri bersama perjuangan rakyat Iran serta aspirasi mereka untuk kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan," ujar Netanyahu kepada kabinet Israel.
Pada 28 Desember, para pedagang di Teheran menggelar protes menentang lonjakan harga dan anjloknya nilai mata uang rial.
Hal ini memicu gelombang aksi serupa di sejumlah kota, sebagian diantaranya berujung mematikan.
Aksi demonstrasi ini masih lebih kecil dibandingkan gelombang protes pada periode 2022-2023, dan jauh di bawah aksi massa besar pada 2009 pasca pemilu yang dipersoalkan.
Namun, unjuk rasa ekonomi itu telah menarik perhatian internasional, termasuk dari para pemimpin musuh internasional Republik Islam Iran.
Pada Senin, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Trump dan Netanyahu menghasut kekerasan dan berupaya merusak persatuan nasional Iran.
Perang pada Juni lalu dimulai dengan serangan Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran.
(rnp/bac)

1 day ago
9
















































