Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah intensitas perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang kian memanas, sejumlah analis memperingatkan bahwa peluang penyelesaian melalui negosiasi kini berada di titik nadir.
Melansir Al Jazeera, kedua belah pihak justru dinilai terus menaiki "tangga eskalasi" yang berbahaya.
Mohamad Elmasry, analis dari Doha Institute for Graduate Studies, mengungkapkan bahwa lintasan konflik saat ini justru menjauh dari jalur diplomasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Elmasry berpendapat bahwa Israel adalah aktor utama yang mendorong eskalasi ini. Ia menilai Tel Aviv secara sengaja menutup pintu pemukiman.
"Saya rasa benar bahwa Israel tidak menginginkan penyelesaian. Mereka tidak ingin perang ini berakhir," ujar Elmasry.
Bukti-bukti eskalasi pihak Israel dan Iran yang disorot meliputi:
- Pelanggaran Janji: Israel memutuskan untuk menyerang pabrik baja dan situs energi Iran, yang secara langsung melanggar janji Donald Trump untuk menunda serangan pada sektor tersebut.
- Target Sipil: Serangan kini semakin sering menghantam kawasan pemukiman dan situs sipil, termasuk universitas-universitas di Iran.
- Respons Teheran: Iran telah bersumpah akan melakukan aksi balasan, yang memicu kekhawatiran konflik akan meledak di luar kendali.
Upaya diplomasi yang sempat digulirkan oleh pemerintahan Trump pun dinilai menemui jalan buntu. Perbedaan posisi antara Washington dan Teheran dianggap terlalu lebar untuk dijembatani.
"Jika Anda melihat 15 poin proposal (Amerika Serikat), itu sebenarnya lebih mirip dokumen menyerah. Kemudian lihat 5 poin proposal Iran; kedua pihak ini tidak bisa lebih jauh lagi perbedaannya," pungkas Elmasry.
Dengan kondisi ini, pakar memperingatkan bahwa dunia kemungkinan besar akan menyaksikan eskalasi militer yang lebih besar alih-alih duduknya kedua belah pihak di meja perundingan.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
9
















































