Kekeringan Terparah Sepanjang Sejarah di China, 13 Juta Orang Tewas

11 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Musim panas selalu menimbulkan kekhawatiran datangnya bencana.

Dan sejarah memang pernah mencatat musim panas yang panjang hingga menyebabkan kematian, seperti yang terjadi di China pada periode 1876-1879.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekeringan dalam periode ini terjadi di masa Dinasti Qing yang disebut kelaparan besar, karena dampaknya yang sangat luar biasa.

Laman Disaster History menuliskan, "Pada saat kondisi mulai stabil pada tahun 1879, diperkirakan 9,5 hingga 13 juta dari total populasi sekitar 108 juta jiwa di wilayah yang terkena dampak telah meninggal karena kelaparan dan penyakit yang berhubungan dengan kelaparan," tulis laman itu.

Setidaknya ada di 13 provinsi di China yang terdampak dengan lima provinsi sebagai pusatnya.

Catatan sejarah menulis kekeringan dan kelaparan paling mematikan dalam sejarah panjang kelaparan dan bencana di Tiongkok kekaisaran melanda lima provinsi utara yaitu Shandong, Zhili, Shanxi, Henan, dan Shaanxi. Ketika kekeringan melanda, curah hujan di sejumlah provinsi minim bahkan ada yang dalam setahun tidak turun hujan.

Namun musim panas memang bukan penyebab satu-satunya kematian. Sebab dalam tahun-tahun sebelumnya, pemerintah sebenarnya berhasil mengatasi kekeringan dan menekan bencana. Tapi kondisi negara yang tidak stabil akibat terjadinya pemberontakan menyebabkan bencana alam itu menjadi berdampak sangat mematikan.

Selama abad kedelapan belas, ketika kekuatan dan komitmen negara Qing untuk menyimpan dan mendistribusikan biji-bijian berada pada puncaknya, negara tersebut beberapa kali secara efektif mencegah kekeringan serius yang mengakibatkan kelaparan massal.

Upaya monumental yang dilakukan untuk menekan pemberontakan pertengahan abad menimbulkan malapetaka pada sistem lumbung Qing.

Khususnya di provinsi-provinsi utara yang rawan kekeringan, para pejabat Qing mengandalkan lumbung negara dan komunitas untuk menjaga harga biji-bijian tetap rendah dan memberikan bantuan darurat selama krisis pangan.

Penurunan sistem lumbung dimulai pada tahun 1790-an dan mencapai tingkat krisis setelah pemberontakan pertengahan abad.

Penurunan ini berarti bahwa pada saat kekeringan menyebar di Tiongkok Utara pada akhir tahun 1870-an, garis pertahanan pertama negara Qing terhadap krisis pangan yang serius sebagian besar telah digantikan oleh sistem "darurat" yang dijalankan oleh elite lokal yang tidak memiliki kekuasaan negara untuk memelihara cadangan lumbung yang sangat besar dan untuk melakukan transfer biji-bijian antar wilayah yang vital.

Akibatnya, pada akhir abad kesembilan belas negara Qing telah sangat melemah akibat pemberontakan pertengahan abad, krisis fiskal, kurangnya kepemimpinan yang kuat, dan tekanan imperialisme asing. Dengan demikian, negara tersebut tidak lagi mampu mengerahkan intervensi yang diperlukan untuk mencegah kekeringan menyebabkan kelaparan.

Besarnya skala bencana tersebut mendorong tindakan bukan hanya dari istana Qing dan para pejabat yang bertugas meringankan penderitaan provinsi-provinsi utara yang dilanda kelaparan, tetapi juga para misionaris Barat dan filantropis Tiongkok yang tinggal di wilayah Jiangnan (hilir Sungai Yangzi) yang kaya.

Bencana tersebut mendapat liputan luas di surat kabar berbahasa Tiongkok dan Inggris yang diterbitkan di pelabuhan Shanghai.

Pada musim semi tahun 1877, anggota terkemuka dari komunitas asing yang besar di Shanghai menanggapi seruan misionaris untuk bantuan dengan menggalang dana bantuan dari pemukiman asing.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |