Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin Tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong Un mengkritik Amerika Serikat (AS) dalam pidato perdananya usai terpilih kembali sebagai presiden.
Dalam pidato di Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi ke-15 Korea Utara, Kim mengatakan AS di bawah kepresidenan Donald Trump saat ini sedang melakukan tindakan terorisme dan agresi. Hal itu diyakini merujuk pada serangan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari, dan beberapa lainnya termasuk di Venezuela dan Kuba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kim berujar meski tindakan brutal itu dilakukan, pada faktanya AS gagal melemahkan rakyat yang menentang dominasi dan penaklukan.
"Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun AS sekarang menggunakan tindakan terorisme dan agresi di berbagai belahan dunia, sikap arogan, sewenang-wenang, dan gegabah mereka gagal melemahkan kemauan umat manusia yang progresif untuk menentang dominasi dan penaklukan serta mencapai kemerdekaan dan kesetaraan," kata Kim Jong Un saat menyampaikan pidato kebijakan negara di Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi ke-15 DPRK, Senin (23/3), seperti dikutip kantor berita Korut, KCNA.
Kim melanjutkan aksi AS sekarang malah memicu sentimen anti-Amerika dan mendorong persatuan rakyat yang terintimidasi.
Menurutnya, "kekuatan-kekuatan yang bercita-cita untuk merdeka pasti akan mengatasi cobaan saat ini dan menjadi lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang mencari hegemoni."
Ini merupakan pidato perdana Kim setelah terpilih kembali sebagai presiden urusan negara Korea Utara pada Senin (23/3). Dalam pidato ini, Kim berulang kali menegaskan kebijakan pertahanan Pyongyang yang tak akan melepaskan senjata nuklirnya.
Kim menggarisbawahi bahwa situasi internasional saat ini rumit dan tidak terduga. Oleh karena itu, ia ingin mengantisipasinya dengan 'bersiap untuk segala kemungkinan'.
"Cara yang tepat untuk mengubah ketidakpastian menjadi kepastian adalah dengan selalu mengkhawatirkan situasi terburuk daripada mencari kenyamanan, memprioritaskan manfaat jangka panjang dan strategis daripada manfaat jangka pendek, dan bercita-cita untuk kemakmuran berkelanjutan di masa depan daripada kemudahan saat ini," ucap cucu dari pendiri Korut, Kim Il-sung tersebut.
Masih dalam pidato yang sama, Kim mengatakan AS dan sekutu saat ini terus-menerus mengerahkan aset strategis nuklir di sekitar Korea Utara. Tindakan ini mengancam pilar keamanan Korut, meski Pyongyang pada dasarnya tak takut.
"Sebenarnya ini bukanlah hal baru bagi kami, dan keamanan negara kami dipertahankan pada tingkat yang lebih tinggi daripada wilayah lain di dunia. Saya yakin untuk mengatakan: Negara kita bukan lagi negara yang rentan terhadap ancaman dari negara lain, dan negara kita memiliki kekuatan untuk mengancam mereka, jika perlu," ucap Kim Jong Un.
Korea Utara merupakan sekutu Iran. Korut sejak lama diyakini menjalin kerja sama militer dengan Iran, termasuk di bidang teknologi rudal.
Menurut laporan Badan Intelijen Pertahanan AS pada 2019, rudal balistik Shahab-3 Iran dikembangkan dengan mencontoh rudal Rodong jarak menengah Korut. Rudal Kharramshahr Teheran juga diyakini terkait secara teknis dengan rudal Musudan milik Pyongyang.
(blq/kid)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
4

















































