Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah media Amerika Serikat mengkritik penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan AS dengan Iran, untuk mengakhiri perang yang dimulai sejak Februari lalu.
Media-media AS mengecam konsesi Trump kepada Iran, dan menyebut Teheran justru mendapatkan keuntungan besar dari kesepakatan ini.
"Gedung Putih menyetujui perpanjangan gencatan senjata ini yang tidak memenuhi tujuan sebelum perang, namun memberikan konsesi keuangan yang sangat besar kepada Teheran," demikian laporan jaringan TV AS, MS NOW.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang, pemerintah berusaha mati-matian untuk berargumentasi sebaliknya. Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tidak ada yang mau menerima tawarannya," lanjut laporan itu.
Fox News sebagai saluran berita yang biasanya "ramah" dengan pemerintah Trump, mengutip para kritikus yang mengatakan perjanjian itu memberikan Iran keuntungan finansial yang besar.
Menurut para pengamat, seperti dikutip Fox News, Iran justru mendapat keuntungan tanpa perlu benar-benar menghentikan program nuklirnya.
Selain itu dalam kesepakatan yang ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Teheran juga akan mendapatkan dana "kompensasi" berupa komitmen investasi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.342 triliun.
"Perjanjian Iran yang diusulkan oleh Presiden Donald Trump menuai kritik tajam dari beberapa pendukung terkuatnya, yang berpendapat bahwa perjanjian tersebut memberi manfaat bagi Teheran, sebelum negara itu setuju untuk sepenuhnya menghentikan program nuklirnya," demikian laporan Fox News.
Trump dan Pezeshkian telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara digital, untuk mengakhiri perang Iran dan AS.
Selain penghentian perang di semua front hingga pencabutan blokade di Selat Hormuz, AS juga berkomitmen untuk segera menghapus sanksi minyak yang telah melumpuhkan perekonomian Iran.
Media Wall Street Journal (WSJ) menyebut perjanjian itu secara luas dipandang sebagai pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar pada masa jabatan Trump yang kedua.
"Trump akan menghadapi perlawanan dari kelompok garis keras kebijakan Iran, yang mendatakan bahwa presiden telah menyerah jauh lebih banyak daripada yang ia dapatkan," kutip WSJ.
(dna)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
2















































