Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia menegaskan akan membantu China yang mulai kerepotan karena ulah Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz setelah negosiasi dengan Iran mentok.
Pernyataan itu disampaikan ketika Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menemui Presiden China Xi Jinping di tengah kecamuk Timur Tengah belakangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media pemerintah China CCTV melaporkan pertemuan tersebut dihelat di Beijing pada Rabu (15/4) saat Lavrov berkunjung selama dua hari ke China.
Dalam konferensi pers di Beijing, Lavrov menyampaikan bahwa Rusia bersedia membantu menutupi kekurangan energi China karena konflik di Timur Tengah.
"Rusia, tanpa ragu, dapat menutupi kekurangan sumber daya bagi China dan negara-negara lain yang tertarik untuk bekerja sama dengan kami," kata Lavrov, seperti dikutip AFP.
Berdasarkan keterangan CCTV, dalam pertemuan ini, Xi Jinping dan Lavrov membahas sejumlah isu, khususnya konflik di Timur Tengah dan perang Rusia vs Ukraina.
Xi Jinping mengatakan kepada Lavrov bahwa stabilitas hubungan Rusia dan China "sangat berharga" dan berkomitmen untuk terus meningkatkannya.
China dan Rusia merupakan mitra ekonomi dan politik yang kuat. Hubungan kedua negara semakin erat sejak invasi Rusia ke Ukraina diluncurkan pada 2022.
China merupakan salah satu negara yang kini terdampak penutupan Selat Hormuz imbas konflik Amerika Serikat (AS) vs Iran.
Sebelum bertemu Xi Jinping, Lavrov lebih dulu bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi. Dalam pertemuan tersebut, ia menyindir upaya AS yang menurutnya mencoba "membendung" Rusia dan China.
"Mereka mencoba membongkar (kerja sama regional) dengan menciptakan struktur berbasis blok berformat kecil yang bertujuan membendung China dan Rusia," kata Lavrov, seperti dikutip kantor berita Rusia RIA Novosti.
Kunjungan Lavrov terjadi di tengah konflik AS-Israel vs Iran. AS dan Iran sudah sepakat gencatan senjata sejak 8 April, namun kesepakatan tersebut masih amat rapuh karena negosiasi damai pada Sabtu (11/4) gagal mencapai mufakat.
AS ngotot ingin Iran menyetop sepenuhnya program nuklir mereka. Sedangkan Iran menolak karena mengeklaim nuklir dipakai untuk kepentingan sipil.
Usai perundingan mandek, Presiden AS Donald Trump pun memutuskan ikut memblokade Selat Hormuz, terutama jalur maritim dari dan ke pelabuhan-pelabuhan Iran. Washington mengeklaim langkah itu ditujukan menekan Iran agar kembali ke meja perundingan.
Sejak perang pecah pada 28 Februari, Iran diam-diam mengekspor jutaan barel minyak ke berbagai negara Asia. Pada saat yang sama, Teheran menutup Selat Hormuz untuk kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS-Israel.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa (14/4) menyatakan pasukannya berhasil "menghentikan sepenuhnya" perdagangan maritim dari dan ke Iran.
"Dalam waktu kurang dari 36 jam sejak blokade diberlakukan, pasukan AS telah sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui laut," kata Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper, seperti dikutip Anadolu Agency.
(blq/bac)
Add
as a preferred source on Google

14 hours ago
7
















































