Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terus mengeklaim Israel berada di atas angin dalam perang yang telah berlangsung selama sebulan ini dan posisi Iran makin terdesak.
Netanyahu juga mengaku bahwa Israel berencana terus melanjutkan operasi militer ke Iran bersama Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dikutip Al Jazeera, tokoh-tokoh oposisi makin mengkritik langkah sang perdana menteri lantaran situasi di lapangan terlihat berbeda.
Oposisi menilai Netanyahu tidak memiliki strategi keluar dari perang yang jelas dan dicap sering mengada-ngada dan melebih-lebihkan capaian militer Israel dalam perang ini yang padahal tidak seberapa.
Saat ini, Israel bahkan makin terhimpit dengan perlawanan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Israel masih menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran setiap harinya. Negara itu juga dihujani roket-roket dan proyektil lainnya dari milisi Hizbullah di Lebanon yang merupakan sekutu Iran.
Baru-baru ini, Israel bahkan dipukul dari front ketiga yakni kelompok Houthi di Yaman yang juga merupakan sekutu dekat Iran.
"Akibatnya, Israel mulai melakukan rasionalisasi penggunaan sistem pertahanan udaranya karena tekanan yang berlebihan, harus menghadapi ancaman rudal dan serangan dari berbagai arah sekaligus," bunyi laporan Al Jazeera.
Pada Sabtu (28/3) malam, militer Israel mengumumkan telah mencegat sebuah drone di atas kota pelabuhan Eilat dan menduga drone tersebut berasal dari Yaman. Namun, kekhawatiran terbesar Israel tetap pada serangan rudal balistik yang terus diluncurkan dari Iran.
Dalam satu jam terakhir, peringatan kembali dikeluarkan di wilayah selatan Israel terkait potensi kedatangan rudal dari Iran. Sirene peringatan meraung-raung di wilayah Negev dan bagian selatan lainnya.
Sebelumnya pada Sabtu, salah satu serangan rudal Iran yang cukup serius menghantam kota Beit Shemesh di Israel bagian tengah, menyebabkan kerusakan luas dan melukai 11 orang.
Sementara itu, pertempuran paling intens terjadi di wilayah utara, di sepanjang perbatasan dengan Lebanon, ketika militer Israel terus melakukan dorongan ke Lebanon selatan untuk membentuk zona penyangga, sambil berhadapan dengan Hizbullah dalam upaya mendorong kelompok tersebut menjauh dari perbatasan.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
4
















































