Jakarta, CNN Indonesia --
Unggahan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Malaysia yang menampilkan kilatan petir dari luar angkasa memicu reaksi netizen Malaysia, yang merespons dengan candaan soal sumber daya alam negara mereka.
Dalam unggahan tersebut, Kedubes AS menulis kalimat pembuka dengan "Malaysia, kamu belum pernah terlihat se-elektrik ini."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Netizen Malaysia ramai-ramai melontarkan komentar bernada candaan sarkas setelah unggahan tersebut.
"Apa yang Anda lihat itu adalah api unggun. Pada malam hari kami menyalakan api unggun untuk mengusir hewan liar sementara kami tidur dengan aman di atas pohon," tulis netizen Malaysia, seperti dikutip Global Times.
Selain itu, terdapat komentar yang lebih mencolok dengan lebih dari 400 tanda suka, dengan nada bercanda menyatakan bahwa Malaysia tidak memiliki minyak.
"Hai, tolong sampaikan ke Presiden Anda (Donald Trump) bahwa kami tidak punya minyak ya. Kami hanya punya minyak goreng Saji," tulis netizen bernama Fakhri Kamarudin.
Dalam waktu singkat, kolom komentar dipenuhi pernyataan sarkas yang menggambarkan Malaysia sebagai negara tanpa listrik, sumber daya alam, atau nilai strategis, hanya memiliki durian, orangutan, dan minyak goreng.
Humor ini bukan sekedar candaan daring, melainkan refleksi kekhawatiran yang dipicu oleh pengalaman negara lain seperti Venezuela dan Greenland.
Candaan tersebut mencerminkan kesadaran defensif yang berkembang di banyak negara Global South.
The Global Times menulis bahwa terdapat pemahaman bahwa dalam pandangan kebijakan luar negeri AS, negara dengan sumber daya melimpah sering menjadi sasaran, sementara negara "tidak bernilai" dianggap lebih aman.
"Unggahan Kedubes AS dan sudut pandang tinggi dari citra tersebut mengandung kesan superioritas diri," ujar profesor di China Foreign Affairs University, Li Haidong.
"Ejekan diri para warganet ini mencerminkan kesadaran akan risiko ketika sebuah negara menarik perhatian AS. Ketika sebuah negara dianggap 'berguna', ia berpotensi untuk 'membakar dirinya sendiri' demi melayani kepentingan AS," tambah dia.
Fenomena ini juga tidak terlepas dari langkah AS terhadap Venezuela. Serangan dan penahanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuai kecaman internasional.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional. Kesepakatan ekspor minyak Venezuela ke AS setelah insiden tersebut semakin memperkuat persepsi bahwa sumber daya kerap menjadi faktor utama.
Dengan latar belakang itu, pernyataan netizen Malaysia tentang "tidak punya minyak" dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan simbolik.
"Baik dalam pernyataan resmi maupun reaksi publik, respons ini mencerminkan pemahaman luas di negara-negara Global South: kewaspadaan terhadap penolakan terhadap logika hegemoni AS, baik di tingkat elite maupun masyarakat Global South," kata wakil dekan ASEAN College di Guangxi Minzu University, Ge Hongliang.
Negara-negara Global South semakin menyadari bahwa kebijakan luar negeri AS kerap mengutamakan kekuatan dan sumber daya dibandingkan keadilan internasional atau kerja sama yang setara.
Karena itu, muncul konsensus untuk menjaga keamanan negara-negara Global South perlu memperkuat otonomi strategis, menjaga keseimbangan diplomasi, dan meningkatkan solidaritas regional serta kerja sama multilateral sebagai penyeimbang kekuatan global.
(rnp/bac)

5 hours ago
3

















































