Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah pakar kompak menilai bahwa Amerika Serikat (AS) telah kalah dalam perang melawan Iran.
The New Arab melaporkan para ahli dan spesialis di AS berkumpul selama lebih dari lima jam di konferensi tahunan ke-11 Arab Center di Washington DC pada Jumat (10/4) untuk memaparkan penilaian mereka mengenai masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump.
Fokus pengamatan mereka yakni kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah, perang AS-Israel vs Iran, serta implikasi seluruhnya terhadap pemilihan paruh waktu AS, standar demokrasi, hukum internasional, dan hak asasi manusia (HAM) di Timur Tengah dan AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sesi pembukaan, Profesor John Mearsheimer, seorang ilmuwan politik di Universitas Chicago, mengatakan bahwa arah perang saat ini merupakan kekalahan bagi Amerika Serikat dan Israel, khususnya setelah Iran menguasai Selat Hormuz.
Ia menjelaskan Israel memiliki tiga tujuan strategis utama di Timur Tengah, yakni pertama, memperluas perbatasan termasuk di Tepi Barat, Jalur Gaza, Lebanon selatan, Sungai Litani, bahkan Semenanjung Sinai; kemudian, melakukan pembersihan etnis di wilayah yang dikuasainya khususnya di Gaza dan Tepi Barat; dan ketiga, memastikan negara-negara tetangganya tetap selemah mungkin.
Tiga tujuan ini, kata Mearsheimer, dilakukan Israel dengan dua cara, yakni dengan mempertahankan negara-negara tetangga seperti Yordania dan Lebanon agar tetap tunduk kepada AS, serta dengan menghancurkan dan melemahkan negara-negara yang lebih besar seperti Suriah, Iran, dan Turki.
Menurut Mearsheimer, agresi Israel di Gaza adalah contoh langkah Israel dalam mencapai dua tujuan pertama.
Ia berujar setelah serangan kelompok milisi Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel berupaya mendorong pengungsian di Gaza melalui kekuatan militer luar biasa. Namun, karena ketahanan rakyat Palestina, kampanye itu pun berkembang menjadi genosida dan pembunuhan massal.
Saat membicarakan ini, Mearsheimer menyampaikan keterkejutannya atas bungkamnya kaum liberal di Amerika Serikat. Ia menegaskan AS jelas terlibat dalam kampanye ini.
Mearsheimer menuturkan AS memiliki kepentingan strategis tinggi di Timur Tengah, salah satunya persoalan minyak. Karena hal ini, AS mempertahankan hubungannya dengan Israel, dan rela mendukung tanpa syarat, bahkan ketika kepentingan tersebut berbeda dari kepentingan nasional AS.
Kemudian, mengenai Iran, Mearsheimer melanjutkan bahwa Israel bertujuan menghancurkan negara itu dengan cara yang mirip dengan Suriah, yakni memecahnya menjadi entitas-entitas terpisah. Israel, kata Mearsheimer, memandang Iran sebagai ancaman eksistensial dan mungkin akan menggunakan kekuatan nuklir jika mereka yakin Teheran telah memperoleh kemampuan tersebut.
Ia berujar karena kuatnya lobi Israel di AS, kecil kemungkinan Washington akan mencegah hal ini.
Selain memecah belah Iran, Israel juga disebut memiliki alternatif, yakni mendorong perubahan rezim guna memasang pemerintahan yang pro dengan AS.
Mearsheimer pun berpendapat hal-hal inilah yang dipakai Israel untuk merayu AS ikut perang melawan Iran, di mana sekarang perang tersebut malah menjadi tak terkendali dan tak bisa dimenangkan oleh Amerika Serikat.
Kekalahan AS ini utamanya terletak pada kerugian akibat serangan terhadap pangkalan militer, rusaknya pesawat, menipisnya stok amunisi canggih, dan keterbatasan pasukan darat.
Kondisi ini menyebabkan AS bahkan tidak punya kemampuan untuk membela sekutunya di Teluk yang juga dibombardir Iran.
Mearsheimer juga mengatakan Iran saat ini menang telak karena kendalinya atas Selat Hormuz. Kontrol Iran di selat tersebut memberinya kemampuan untuk mengganggu perdagangan global dan memicu konsekuensi ekonomi yang parah.
Mearsheimer memperingatkan jika Selat Hormuz terus terganggu, pasokan pupuk dan produksi pangan global sangat berpotensi terdampak. Hal ini akan meningkatkan risiko kelaparan di dunia.
Mearsheimer pun mengatakan Trump tidak bisa meningkatkan eskalasi lebih lanjut karena kendala-kendala ini. Mengakui kekalahan mungkin menjadi satu-satunya pilihan bagi Trump di tengah tekanan dunia sekarang.
Jika Trump benar ingin menghancurkan peradaban Iran seperti yang diucapkan sebelumnya, menurut Mearsheimer, Trump sama saja sedang melakukan "genosida" dan dapat dimintai pertanggungjawaban di hadapan komunitas internasional.
Dalam sesi akhir konferensi, Carrie Dann dari Cook Political Report juga mengatakan perang Timur Tengah saat ini memiliki dampak signifikan pada pemilihan paruh waktu AS. Warga AS mayoritas tidak setuju dengan perang tersebut.
Sebagian besar warga AS mengaku khawatir tentang harga bahan bakar minyak, tekanan ekonomi, dan potensi korban jiwa.
(blq/dna)
Add
as a preferred source on Google

18 hours ago
10















































