PBB Akan Voting Usulan Berlakukan Aksi Militer di Selat Hormuz

14 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada Jumat terkait proposal yang membuka peluang penggunaan kekuatan militer untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Usulan tersebut diajukan oleh Bahrain, sekutu dekat Amerika Serikat di kawasan Teluk. Dalam draf resolusi, negara-negara anggota PBB akan diberi kewenangan menggunakan "semua cara defensif yang diperlukan" guna memastikan kebebasan navigasi di salah satu jalur energi paling vital di dunia itu.

Menteri Luar Negeri Bahrain menyebut pembahasan di PBB bertujuan melindungi perdagangan global dan mencegah gangguan pada rantai pasok energi dunia. Selat Hormuz sendiri menjadi jalur utama distribusi minyak global, sehingga setiap gangguan berpotensi mengguncang ekonomi internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mandat militer terbatas, tapi signifikan

Melansir CNN, dalam draf yang beredar, resolusi tersebut mengizinkan negara anggota bertindak secara individu maupun melalui kerja sama maritim multinasional. Operasi ini mencakup penggunaan kekuatan defensif di wilayah selat dan perairan sekitarnya, termasuk di perairan teritorial negara pesisir.

Mandat itu dirancang berlaku selama enam bulan sejak disahkan, dengan kewajiban pelaporan berkala ke Dewan Keamanan. Meski demikian, resolusi menegaskan langkah ini hanya berlaku khusus untuk Selat Hormuz dan tidak dimaksudkan sebagai preseden hukum internasional.

Draf tersebut juga mengecam tindakan Iran yang dinilai melanggar hukum internasional serta mengancam stabilitas perdagangan dan keamanan energi global.

Sejumlah manuver diplomatik dilakukan jelang pemungutan suara. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dilaporkan telah berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Sumber di kawasan Teluk menyebut ada ekspektasi Rusia tidak akan memveto resolusi tersebut. Riyadh juga disebut tengah menjajaki komunikasi dengan China agar Beijing mengambil posisi serupa.

Jika kedua negara itu tidak menggunakan hak veto, peluang resolusi untuk lolos akan semakin besar.

Rencana voting ini muncul di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menghantam wilayah dekat Teheran, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai puluhan lainnya.

Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps mengklaim menyerang pusat komputasi awan Amazon di Bahrain. Serangan itu disebut sebagai respons atas aksi pembunuhan yang dituduhkan kepada pihak lawan.

Bahrain sendiri menjadi target karena menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat, menjadikannya bagian penting dari arsitektur keamanan Washington di kawasan Teluk.

Selain itu, kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengaku meluncurkan rudal balistik ke wilayah Israel, menambah panjang daftar konflik yang saling berkaitan di kawasan.

Ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran lonjakan harga energi dunia. Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat berupaya meredam kekhawatiran tersebut dengan menyebut kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara.

Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan minyak global, keputusan Dewan Keamanan PBB dalam voting ini diperkirakan akan menjadi penentu arah stabilitas keamanan dan ekonomi dunia dalam waktu dekat.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |