Tak Dukung Perang Iran, Eropa Tetap Kena Dampak Ulah Trump

13 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Negara-negara Eropa menghadapi dampak signifikan dari konflik Iran, meski sejak awal tidak menginginkan perang tersebut. Kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dinilai justru membebani sekutu Eropa dengan konsekuensi energi dan geopolitik.

Dalam pernyataannya, Trump meminta negara-negara Eropa mengambil peran lebih besar dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

"Pergi ke selat itu dan ambil alih, lindungi, gunakan untuk diri kalian sendiri," kata Trump dalam pidatonya, Rabu (1/4), seperti dikutip dari CNN.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, dengan kecenderungan melempar tanggung jawab kepada sekutu. Presiden emeritus Council on Foreign Relations, Richard Haass, menyebut pendekatan ini sebagai pembalikan prinsip lama.

"Dulu prinsipnya 'kalau merusak, harus bertanggung jawab'. Sekarang menjadi 'kami yang merusak, tapi kalian yang menanggung'," ujarnya.

Kondisi ini menempatkan Eropa dalam posisi sulit. Mereka tidak dilibatkan dalam keputusan perang, namun kini diminta ikut memulihkan situasi.

Mantan Duta Besar AS untuk NATO, Ivo Daalder, turut mengkritik langkah tersebut.

"Presiden memulai perang tanpa berbicara dengan Kongres, rakyat Amerika, maupun sekutu," kata Daalder.

Dampak paling nyata yang dirasakan Eropa adalah guncangan energi akibat terganggunya pasokan dari Selat Hormuz. Kawasan itu belum sepenuhnya pulih dari krisis energi sebelumnya yang dipicu Perang Rusia-Ukraina 2022.

Lembaga think tank Bruegel memperingatkan biaya energi Uni Eropa berpotensi melonjak karena negara-negara harus bersaing mencari pasokan alternatif.

Krisis ini juga berpotensi menggoyahkan komitmen Uni Eropa untuk menghentikan ketergantungan pada energi Rusia. Sejumlah pihak mulai mempertanyakan kebijakan tersebut di tengah tekanan harga.

Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever, bahkan sempat menyerukan normalisasi hubungan dengan Rusia demi mendapatkan energi murah, meski menuai kritik.

Selain energi, hubungan transatlantik juga terancam. Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan menarik AS dari NATO karena menilai sekutu tidak cukup mendukung.

"Mereka tidak menjadi teman saat kami membutuhkan," ujar Trump.

Pernyataan tersebut dinilai memperdalam krisis kepercayaan antara AS dan Eropa. Daalder menegaskan aliansi militer sangat bergantung pada kepercayaan, yang kini mulai terkikis.

"Sulit membayangkan negara Eropa masih bisa sepenuhnya percaya pada AS untuk membela mereka," katanya.

Merespons situasi ini, sejumlah pemimpin Eropa mulai mengambil sikap lebih tegas. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menilai gagasan penggunaan kekuatan untuk membuka Selat Hormuz tidak realistis.

"Kalau ingin serius, jangan mengatakan hal yang bertentangan dari hari ke hari," ujar Macron.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Eropa kini berupaya mengurangi ketergantungan terhadap AS, baik dalam sektor pertahanan maupun energi. Kawasan itu juga mempercepat transisi ke energi terbarukan sebagai langkah mengantisipasi krisis serupa di masa depan.

(lau/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |