Jakarta, CNN Indonesia --
Dua supertanker China yang membawa empat juta barel minyak Arab Saudi berhasil keluar dari Laut Merah melalui Selat Bab Al Mandab pada Kamis (23/7).
Dilansir Reuters, dua tanker itu tampaknya lolos dari blokade pengiriman minyak Saudi yang dilakukan oleh milisi Houthi di Yaman, bahkan ketika kapal-kapal Saudi lainnya diserang.
Menurut data pelayaran LSEG, VLCC Xin Long Yang berbendera Singapura yang sempat memutar balik dan berhenti di tengah Laut Merah pada Selasa (21/7), telah melanjutkan perjalanannya ke selatan pada Rabu (22/7) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu data menunjukkan bahwa kapal VLCC Cosnew Lake berbendera China menyusul, sehingga kedua kapal tanker tersebut keluar dari Laut Merah pada Kamis (23/7) malam.
Kapal Xin Long Yang sedang menuju ke Pelabuhan Qinzhou di Provinsi Guangxi selatan, sementara Cosnew Lake diperkirakan akan menurunkan muatannya di Pelabuhan Huizhou di Provinsi Guangdong, China selatan.
Kedua kapal tersebut mengindikasikan melalui pemancar sistem identifikasi otomatis bahwa ada awak kapal China dan mereka memuat minyak mentah di Pelabuhan Yanbu Arab Saudi awal pekan ini.
Sebelumnya Houthi mengumumkan telah menggelar operasi militer yang menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi, yang disebut melanggar blokade. Imbas konflik Timur Tengah, lalu lintas pelayaran melalui Bab Al Mandab menurun.
Menurut data LSEG, 27 kapal termasuk lima tanker minyak dan sebuah kapal pengangkut bahan bakar gas cair (LPG) melintasi Selat Bab Al Mandab pekan ini, turun dari 38 kapal pada hari sebelumnya.
Milisi Houthi Yaman mulai memaksa kapal-kapal di Laut Merah untuk ganti haluan agar tidak melewati Selat Bab Al Mandab. Houthi sebelumnya mengumumkan akan memblokade kapal-kapal komersial dari dan ke Bab El Mandab yang terkait dengan Arab Saudi.
Dalam surel yang dikirim ke perusahaan pelayaran, Houthi mengatakan kapal dilarang memuat atau membongkar kargo di pelabuhan Saudi. Mereka memperingatkan bahwa perusahaan mana pun yang terlibat dalam aktivitas tersebut dapat menjadi sasaran "di mana saja."
Pengumuman itu mengemuka sehari setelah Houthi menyatakan larangan pelayaran maritim terhadap Arab Saudi. Langkah ini dapat membuka front baru melawan Amerika Serikat dalam konfliknya dengan Iran dan meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global dan perdagangan di luar Teluk.
(dna/bac)
Add
as a preferred source on Google

12 hours ago
6















































