Jakarta, CNN Indonesia --
Sistem pipa minyak utama Arab Saudi diserang proyektil pada Kamis (10/9) yang memicu kebakaran di sejumlah stasiun pompa.
Pemerintah Arab Saudi kemudian menutup sementara operasional pipa tersebut.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan serangan terjadi beberapa kali dan menyebabkan sejumlah orang terluka. Tim terkait kini melakukan pengamanan serta pemeriksaan untuk memastikan kondisi pipa setelah serangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pipa tersebut ditutup sebagai langkah pencegahan," demikian pernyataan Kementerian Energi Arab Saudi, melansir CNN.
Dua pejabat Amerika Serikat (AS) yang mengetahui kejadian tersebut mengatakan stasiun pompa yang berada di dekat jalur pipa menjadi sasaran.
Salah satu citra satelit menunjukkan kerusakan akibat kebakaran di salah satu stasiun pompa, sementara gambar lain memperlihatkan api kecil dengan kepulan asap hitam tebal.
Belum diketahui apakah bagian utama pipa mengalami kerusakan atau berapa lama perbaikan akan berlangsung. Salah satu pejabat AS menyebut serangan dilakukan menggunakan drone yang berasal dari Irak.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi kemudian menyatakan serangan terhadap jaringan East-West Pipeline terjadi di wilayah Riyadh dan Madinah. Serangan tersebut disebut dilakukan oleh beberapa drone yang datang dari Irak dan menyebabkan sejumlah orang terluka serta kerusakan yang masih ditangani.
Arab Saudi menyatakan memilih tidak melakukan serangan balasan untuk sementara waktu usai Perdana Menteri Irak meminta kesempatan bagi pemerintahnya mengambil langkah untuk mencegah serangan dari wilayah Irak terhadap Arab Saudi dan negara-negara tetangganya.
"Kerajaan memilih untuk tidak merespons pada tahap ini, sebagai dukungan terhadap upaya pemerintah Irak," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.
Pemerintah Irak kemudian mengecam serangan tersebut dan memerintahkan penyelidikan segera untuk mencari pihak yang bertanggung jawab. Baghdad juga menyatakan tidak akan membiarkan wilayah maupun ruang udaranya digunakan untuk melancarkan serangan.
Pemerintah Irak menegaskan serangan yang mengancam keamanan Arab Saudi maupun hubungan kedua negara tidak dapat diterima.
Sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan pejabat AS masih mengumpulkan informasi intelijen terkait serangan. Belum ada pihak yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab.
Kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran di Irak sebelumnya pernah menggunakan drone untuk menyerang Arab Saudi. Behnam Ben Taleblu dari Foundation for Defense of Democracies menilai kelompok tersebut berpotensi kembali menggunakan cara serupa di tengah konflik yang lebih luas dengan Iran.
Serangan tersebut terjadi ketika jaringan pipa East-West Pipeline memiliki peran semakin penting bagi ekspor minyak Arab Saudi. Sejak perang AS-Iran pecah dan Selat Hormuz praktis tertutup bagi lalu lintas normal, Arab Saudi mengalihkan sekitar 5 juta barel minyak per hari yang sebelumnya dikirim menuju kapal tanker di Teluk Persia.
Minyak tersebut kemudian dialirkan melalui East-West Pipeline menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Namun, jalur alternatif tersebut juga menghadapi risiko. Kelompok Houthi menyatakan akan menargetkan kapal-kapal Arab Saudi yang mencoba melewati Bab al-Mandeb dari Laut Merah.
Dengan demikian, gangguan terhadap East-West Pipeline berpotensi menambah tekanan terhadap jalur ekspor minyak Arab Saudi, meski dampak akhirnya masih bergantung pada tingkat kerusakan dan lamanya penghentian operasional.
Citra satelit mendeteksi sembilan titik api besar di sekitar jalur pipa pada Kamis. Namun, setidaknya enam titik tersebut tampak berada di lokasi flare pits, tempat minyak dan gas dapat dibakar dalam kondisi darurat.
Pejabat dan sejumlah pakar AS menilai perbaikan stasiun pompa kemungkinan lebih mudah dilakukan dibandingkan jika kerusakan besar terjadi pada badan pipa utama.
Serangan ini juga terjadi ketika harga minyak dunia melonjak melewati US$100 per barel akibat gejolak di Timur Tengah. Pada saat yang sama, Arab Saudi melaporkan kepada OPEC bahwa produksi minyak mentahnya turun tajam pada bulan lalu hingga mencapai level terendah sejak 1990.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti berapa lama jaringan pipa tersebut akan ditutup dan seberapa besar dampak serangan terhadap kemampuan Arab Saudi menyalurkan minyak ke pasar global.
(del/bac)

3 hours ago
2















































