Jakarta, CNN Indonesia --
Militer Israel memulai operasi militer dan serangan darat baru di Lebanon selatan, di tengah serangan militer gabungan dengan Amerika Serikat ke Iran sejak akhir pekan lalu.
Israel mengeklaim operasi itu dilakukan sebagai "tindakan pertahanan garis depan" dengan front militer di Lebanon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan militer telah diinstruksikan untuk "maju dan merebut wilayah kendali di Lebanon" untuk mencegah penembakan terhadap pemukiman perbatasan Israel.
"Kami telah menempatkan tentara di wilayah perbatasan di titik-titik tambahan untuk melindungi warga sipil kami, untuk mencegah Hizbullah menyerang mereka," kata juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, dikutip Al Jazeera.
Menanggapi hal ini, milisi Hizbullah mengatakan serangan Israel baru-baru ini telah memuat kelompok tersebut tak punya pilihan lain selain kembali melakukan perlawanan.
"Israel menginginkan perang terbuka, jadi biarlah itu menjadi perang terbuka. Era kesabaran telah terakhir," kata pejabat senior Hizbullah, Mahmoud Qmati.
Serangan udara terbaru Israel pada Selasa (3/3) sore menghantam pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh, setelah setidaknya tiga serangan di daerah yang sama pada pagi harinya.
Israel juga mengeluarkan pemberitahuan pengungsian paksa untuk sekitar 59 wilayah di Lebanon, termasuk beberapa lingkungan di Dahiyeh, yang secara tradisional merupakan rumah bagi sebagian besar penduduk Syiah yang dianggap sebagai basis dukungan bagi Hizbullah.
Warga sipil di seluruh wilayah Lebanon terus-menerus menjadi sasaran serangan Israel dan telah menderita ribuan kematian massal selama perang yang berlangsung sejak 2023 hingga 2024.
UNHCR menyebut sebanyak 30 ribu pengungsi mencari perlindungan di tempat penampungan di Lebanon sejak permusuhan antara Israel dan Hizbullah.
(dna)

3 hours ago
2
















































