Jakarta, CNN Indonesia --
Warga Amerika yang di luar negeri, terutama Timur Tengah, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul perang yang terjadi antara AS-Israel dengan Iran hingga saat ini.
Hal itu diketahui melalui peringatan keamanan global yang dikeluarkan Departemen Luar Negeri AS pada Minggu (22/3), seperti diberitakan CNN, untuk seluruh warga Amerika di luar negeri, khususnya di Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah tersebut diambil menyusul situasi geopolitik yang semakin bergejolak hingga meningkatnya risiko gangguan keamanan.
Dalam pernyataan resminya, otoritas AS menyoroti potensi hambatan perjalanan akibat penutupan wilayah udara yang terjadi sewaktu-waktu, serta ancaman terhadap fasilitas diplomatik mereka.
"Warga Amerika di luar negeri harus mengikuti panduan dalam peringatan keamanan yang dikeluarkan oleh kedutaan atau konsulat AS terdekat," kata departemen tersebut dalam peringatan keamanan global.
Pihak kementerian juga mencatat bahwa penutupan wilayah udara "berkala" dapat mengganggu perjalanan dan bahwa gedung-gedung diplomatik AS telah menjadi target serangan dalam beberapa waktu terakhir.
Guna memastikan keselamatan, Departemen Luar Negeri AS mendesak warga Amerika untuk segera mendaftar melalui situs resmi step.state.gov untuk mendapatkan pembaruan keamanan terkini.
Selain itu, warga juga diminta memantau saluran komunikasi resmi seperti WhatsApp "Departemen Luar Negeri AS - Pembaruan Keamanan untuk Warga AS" atau akun @TravelGov di platform X.
Peringatan serius tersebut muncul seiring dengan langkah strategis Washington untuk memperkuat pengamanan di tengah eskalasi konflik dengan Iran.
Menurut diplomatic cable yang dilihat CNN, pekan lalu lembaga tersebut telah memerintahkan seluruh pos diplomatik di seluruh dunia "segera" meninjau postur keamanan mereka.
Perintah itu guna mengantisipasi situasi yang tidak menentu di Timur Tengah "dan potensi efek limpahan" yang mungkin terjadi.
Pada saat yang sama, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz memperkuat peringatan Presiden Donald Trump bahwa Amerika Serikat akan "menyerang dan menghancurkan" pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Hal itu ia sampaikan saat muncul dalam acara Fox News' Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo dan ditanya hal yang akan dilakukan Trump jika Selat tersebut tidak dibuka kembali pada Senin (23/3) malam.
"Dia akan mulai dengan menyerang dan menghancurkan salah satu pembangkit listrik terbesar Iran," kata Waltz. "Ada pembangkit listrik tenaga gas dan jenis pembangkit lainnya."
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan ancaman terhadap Iran hanya memperkuat persatuan, menyusul Trump bersumpah akan menyerang pembangkit listrik negara itu kecuali Selat Hormuz "dibuka sepenuhnya."
"Ilusi menghapus Iran dari peta menunjukkan keputusasaan melawan kehendak bangsa yang sedang mencetak sejarah," tulis Pezeshkian di X.
"Ancaman dan teror hanya memperkuat persatuan kami. Selat Hormuz terbuka untuk semua kecuali mereka yang melanggar wilayah kita. Kami dengan tegas menghadapi ancaman yang tidak masuk akal di medan perang."
Markas besar angkatan bersenjata Iran menyatakan sebelumnya bahwa mereka siap menutup selat tersebut tanpa batas waktu jika Trump melaksanakan ancamannya.
(chri)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
4
















































