Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat Kongres terkejut setelah cekcok dengan partainya sendiri, Partai Republik, dalam pertemuan yang berlangsung panas di Capitol pada Rabu (24/6) waktu setempat.
Ia membatalkan upacara penandatanganan RUU perumahan dan terlibat adu argumen tertutup dengan seorang senator Partai Republik yang menentangnya terkait perang Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump sebelumnya dijadwalkan menandatangani RUU paket bipartisan tentang keterjangkauan perumahan dalam sebuah acara besar. RUU ini akan memberi Partai Republik kesempatan untuk mempromosikan langkah mereka dalam menangani salah satu isu ekonomi yang paling menjadi perhatian pemilih menjelang pemilu sela November mendatang.
Namun, Trump mendadak membatalkan acara tersebut hanya dua jam sebelum dimulai. Ia mengatakan tidak akan menandatangani RUU tersebut sampai Kongres meloloskan SAVE America Act, paket pembatasan pemilu yang telah lama ia perjuangkan.
"Konferensi pers dan penandatanganan RUU Perumahan hari ini dibatalkan sampai kita meloloskan SAVE AMERICA ACT yang sangat dibutuhkan, yang saya anggap sebagai keadaan darurat nasional," tulis Trump di platform Truth Social miliknya seperti dikutip AFP.
RUU tersebut mengharuskan warga menunjukkan bukti kewarganegaraan saat mendaftar sebagai pemilih dan identitas berfoto ketika memberikan suara. Partai Demokrat mengecam aturan itu sebagai serangan terhadap hak pilih, sementara Trump mengklaim kebijakan tersebut diperlukan untuk melindungi integritas pemilu.
RUU itu sendiri telah terhambat di Senat, di mana para pemimpin Partai Republik telah memperingatkan Trump bahwa aturan tersebut tidak memiliki dukungan yang cukup untuk lolos dari prosedur legislatif di kamar tersebut.
Trump, yang hingga kini masih kerap mengulangi klaim palsu bahwa dirinya memenangkan pemilu 2020, tetap menekan isu tersebut saat menghadiri jamuan makan siang bersama para senator Partai Republik.
Pertemuan makin tegang ketika Trump menantang para senator yang sehari sebelumnya memberikan suara terkait resolusi Kongres untuk mengecamnya terkait perang Iran.
Senator Bill Cassidy dari Louisiana kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa Trump mempertanyakan mengapa ada anggota Partai Republik yang mendukung langkah tersebut.
"Saya berdiri dan berkata, 'Anda belum menjelaskan kepada rakyat Amerika apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya perang ini dikatakan hanya akan berlangsung empat minggu, tetapi sekarang sudah berjalan empat bulan. Tujuan awal kita belum tercapai dan saya ingin tahu apa yang sedang terjadi,'" kata Cassidy, seperti dikutip The Hill dan CNN.
Cassidy kalah dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik di Louisiana pada Mei dari kandidat yang didukung Trump, sehingga ia tidak dapat mencalonkan diri kembali pada pemilu November nanti.
Usai meninggalkan pertemuan, Trump masih tampak kesal. Ia mengatakan kepada wartawan, "Saya tidak menyukai beberapa orang, tetapi tidak apa-apa. Saya rasa kalian tahu siapa yang saya maksud."
Namun, pada Rabu malam, Senat menolak resolusi baru yang bertujuan membatasi kewenangan Trump dalam menangani perang Iran, sebuah langkah yang dianggap sebagai perubahan sikap.
Saat memasuki jamuan makan siang bersama Pemimpin Mayoritas Senat John Thune, Trump mengabaikan pertanyaan tentang apakah ia akan menandatangani RUU perumahan tersebut.
Sebaliknya, ia mengatakan bahwa perang di Timur Tengah "berjalan sangat baik" dan bahwa "Iran memberikan konsesi yang sangat besar."
RUU perumahan itu sebelumnya lolos di Kongres dengan dukungan luas dari kedua partai dan dipromosikan oleh Partai Republik sebagai pencapaian langka dalam mengatasi masalah keterjangkauan.
Paket kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan pasokan perumahan, melonggarkan aturan pembangunan, dan memperluas akses kepemilikan rumah di tengah tingginya biaya sewa, suku bunga kredit perumahan, serta kelangkaan rumah yang membebani masyarakat Amerika.
Trump sebelumnya mendukung paket itu karena dapat menjadi kesempatan baginya untuk menunjukkan upaya menurunkan biaya hidup di tengah inflasi yang masih tinggi, sebagian dipicu oleh perang Iran.
Namun pada Rabu, ia menyebut RUU tersebut sebagai hal yang "kurang penting" dan mengatakan bahwa nilainya "jauh lebih kecil" dibandingkan meloloskan SAVE America Act.
Penolakan Trump untuk menandatangani RUU tersebut kemungkinan hanya bersifat simbolis. Berdasarkan Konstitusi AS, sebuah RUU otomatis menjadi undang-undang setelah 10 hari jika presiden tidak menandatangani maupun memvetonya selama Kongres masih bersidang.
Pekan lalu, Trump juga membatalkan sidang konfirmasi Senat untuk calon Direktur Intelijen Nasional pilihannya dengan alasan bahwa RUU pemilu tersebut harus menjadi prioritas utama.
Para pendukung SAVE America Act berpendapat bahwa aturan itu akan memperkuat keamanan pemilu.
Namun, kasus kecurangan pemilu di Amerika Serikat sebenarnya sangat jarang terjadi. Para penentangnya memperingatkan bahwa aturan tersebut justru akan membebani kelompok minoritas, perempuan yang telah menikah, serta kelompok lain yang lebih sulit memperoleh dokumen yang dipersyaratkan.
(rds/bac)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
3
















































