100 Penasihat Militer AS Diklaim Berada di Saudi Bantu Perangi Houthi

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Lebih dari 100 penasihat militer Amerika Serikat diklaim berada di Arab Saudi untuk membantu kerajaan tersebut menghadapi kelompok milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Para personel AS memberikan dukungan intelijen dan penargetan, tetapi tidak terlibat langsung dalam serangan Saudi terhadap Houthi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pejabat AS menyebut jumlah personel yang terlibat dalam komando pasukan gabungan yang baru dibentuk mencapai sekitar 200 tentara.

Komando tersebut dibentuk dalam beberapa pekan terakhir ketika pertempuran antara Arab Saudi dan Houthi semakin meningkat. AS juga melihat indikasi Iran meningkatkan bantuan kepada Houthi untuk melakukan serangan terhadap Arab Saudi.

Dalam kerja sama tersebut, AS membantu Arab Saudi menggunakan perangkat penargetan yang memungkinkan perwira militer melihat kondisi medan perang secara real-time.

Salah satu pejabat AS membandingkan kemampuan tersebut dengan sistem Maven yang digunakan Pentagon, seperti dilaporkan CNN.

Sumber lain mengatakan AS juga memberikan dukungan penargetan geospasial kepada Arab Saudi untuk membantu serangan terhadap Houthi.

Meski demikian, dukungan AS saat ini memiliki batasan yang ketat. AS berbagi informasi intelijen dengan Arab Saudi, tetapi tidak ikut melakukan serangan secara langsung.

Militer AS juga tidak membantu mengisi bahan bakar pesawat tempur Arab Saudi ataupun memberikan dukungan operasional lainnya seperti yang pernah dilakukan Washington dalam perang melawan Houthi pada masa sebelumnya.

Salah satu sumber mengatakan dukungan tersebut lebih difokuskan untuk memastikan operasi militer Arab Saudi berjalan secara efektif dan profesional.

Para sumber menggambarkan langkah ini sebagai perluasan dari kerja sama serta program pelatihan militer yang sebelumnya telah diberikan AS kepada Arab Saudi.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan AS mengatakan kepada CNN bahwa pihaknya tidak berkomentar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan intelijen. CNN juga telah menghubungi Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington untuk meminta tanggapan.

Dukungan AS diberikan ketika situasi di Yaman semakin memanas.

Houthi dalam beberapa hari terakhir mencatat sejumlah kemajuan dan pertempuran yang terjadi disebut menjadi salah satu yang terparah sejak gencatan senjata pada 2022.

Pada Kamis (10/9), Houthi merebut sebuah pelabuhan strategis di Laut Merah. Penguasaan pelabuhan tersebut berpotensi memberi kelompok itu kemampuan lebih besar untuk mengancam Selat Bab-el-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.

Houthi juga melancarkan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi pada awal pekan ini yang menewaskan puluhan warga sipil.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran Washington dan Riyadh mengenai kemungkinan terbentuknya front baru dalam konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

AS meyakini terdapat ratusan perwira Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Yaman yang bekerja sama dengan Houthi. Salah satu pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa tujuan Iran dan Houthi pada akhirnya dapat mencakup upaya menutup Selat Bab-el-Mandeb.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyinggung keberadaan personel IRGC di Yaman. Ia mengatakan Iran berperan dalam serangan Houthi baru-baru ini yang menyasar infrastruktur energi Arab Saudi.

Militer AS saat ini telah terbebani oleh perang yang berlangsung lebih dari enam bulan dengan Iran.

Pasukan AS di kawasan tersebut menghadapi serangan rudal dan drone berulang, penempatan pasukan dalam waktu lama, serta kekhawatiran mengenai ketersediaan amunisi.

Militer AS juga masih memusatkan perhatian pada operasi di sekitar Selat Hormuz, termasuk menyerang target Iran, mengawal kapal komersial, dan mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pejabat AS lainnya mengatakan keterlibatan AS dalam membantu Arab Saudi dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Terlebih, jika serangan itu gagal dan menyebabkan korban sipil, seperti yang terjadi di masa lalu.

"Ini bukan zaman dahulu," dikutip salah satu sumber lainnya.

CNN juga sebelumnya melaporkan bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mendesak agar operasi tersebut diakhiri segera setelah ia dikonfirmasi sebagai penasihat militer utama Trump karena kekhawatiran bahwa AS tidak memiliki strategi keluar yang jelas.

Kekhawatiran itu tidak lepas dari pengalaman sebelumnya. Pada masa pemerintahan Barack Obama dan periode pertama Donald Trump, militer AS pernah memberikan dukungan penargetan kepada Arab Saudi dalam perang melawan Houthi. Kebijakan tersebut menuai kritik karena dinilai berkontribusi terhadap tingginya jumlah korban sipil.

Pada periode kedua pemerintahan Trump, AS juga sempat melancarkan kampanye militer selama berbulan-bulan terhadap Houthi sebelum akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Kini, Washington kembali memperhatikan pergerakan Houthi karena khawatir konflik dengan Iran dapat meluas ke wilayah lain melalui kelompok-kelompok proksi.

(mge/bac)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |