Jakarta, CNN Indonesia --
Warga Singapura Malone Lam mengaku bersalah dalam kasus pencurian uang kripto senilai US$245 juta atau sekitar Rp4,2 triliun di Amerika Serikat.
Aksinya itu terbongkar gara-gara pesta besar-besaran yang ia lakukan dalam semalam menghabiskan sekitar US$500 ribu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lam, yang berusia 22 tahun, mengaku bersalah atas tuduhan konspirasi pemerasan dan pencurian mata uang kripto. Ia mengakui bekerja sama dengan sejumlah rekannya untuk mencuri uang kripto dan mencuci hasil kejahatan tersebut.
Departemen Kehakiman AS (DOJ) menyebut Lam dan komplotannya menghabiskan sebagian uang hasil pencurian untuk berpesta di kelab malam. Pengeluaran mereka bahkan mencapai US$500 ribu atau sekitar Rp10 miliar hanya dalam satu malam.
Selain berpesta, Lam juga membeli sejumlah mobil mewah. Harga kendaraan yang mereka beli berkisar antara US$100 ribu hingga US$3,8 juta atau sekitar Rp10 miliar hingga Rp66 miliar.
Lam kini menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Hakim Distrik AS Colleen Kollar-Kotelly belum menetapkan jadwal sidang pembacaan vonis terhadap Lam.
"Jika Anda membangun kerajaan kejahatan siber, kami akan melacak Anda, membongkar operasi Anda, dan meminta pertanggungjawaban Anda," ujar Jaksa AS Jeanine Pirro, dikutip BBC.
"Terdakwa ini memimpin jaringan internasional yang memangsa korban melalui penipuan, melanggar privasi mereka, dan mencuri mata uang kripto senilai ratusan juta dolar," lanjut Pirro.
Menurut dokumen pengadilan, aksi pencurian tersebut bermula sekitar Oktober 2023 dan berlangsung setidaknya hingga Mei 2025.
DOJ menyatakan Lam menggunakan sejumlah nama samaran, termasuk Anne Hathaway, $$$, dan King Greavy. Ia disebut menjadi otak di balik sindikat tersebut.
Lam bertugas mengidentifikasi calon korban dan mengatur pembagian peran di antara para pelaku. Mereka kemudian menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan informasi rahasia milik korban.
Para pelaku menipu korban agar memberikan informasi sensitif yang dapat digunakan untuk mengakses dompet kripto. Dalam sejumlah kasus, mereka juga diduga melakukan pembobolan rumah untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Setelah mendapatkan akses, para pelaku menguras dompet mata uang kripto milik korban dan memindahkan aset tersebut untuk kemudian dicuci.
Lam mengatakan kepada penyelidik AS bahwa dirinya putus sekolah menengah di Singapura ketika berusia 14 tahun.
Ia kemudian pindah ke AS pada Oktober 2023. Lam tetap tinggal di negara tersebut meski masa berlaku visanya berakhir pada Januari 2024.
(mge/bac)

2 hours ago
1












































