Belanda Selidiki Dugaan Kekerasan terhadap Aktivis Uyghur saat Imlek

13 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivis Uyghur Abdurehim Gheni mengaku menjadi korban kekerasan saat menghadiri rangkaian acara Tahun Baru Imlek di Balai Kota Den Haag, Belanda, pada 14 Februari 2026. Ia menyebut insiden tersebut sebagai bentuk represi transnasional terhadap aktivis Uyghur di Eropa.

Dalam keterangannya, Gheni mengatakan dirinya diserang ketika sedang memegang poster protes di dalam gedung Balai Kota.

"Pada 14 Februari 2026, saya diserang secara brutal di dalam Balai Kota Den Haag selama acara Tahun Baru Imlek nasional. Serangan ini adalah contoh jelas represi transnasional di tanah Eropa," kata Gheni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menceritakan bahwa sejumlah petugas keamanan China tiba-tiba mengelilingi dirinya, menjatuhkannya ke lantai, dan kemudian mencekiknya.

"Mereka memaksa saya ke tanah dan mencekik saya hingga sulit bernapas," ujarnya.

Menurut pengakuan Gheni, saat dirinya ditahan, salah satu petugas juga membisikkan ancaman dalam bahasa Mandarin.

"Salah satu pejabat membisikkan kepada saya: 'Kamu pantas masuk kamp konsentrasi. Kamu pantas mati. Saya akan membunuhmu!'," katanya.

Ia menilai penggunaan bahasa Mandarin dilakukan agar orang-orang di sekitarnya, termasuk petugas Belanda, tidak memahami ancaman tersebut.

Selain itu, Gheni mengatakan kaki kanannya dipelintir dengan keras selama insiden tersebut. "Saya masih menderita rasa sakit parah dan mengalami kesulitan berjalan," kata dia.

Gheni menyebut pengalaman itu memicu trauma mendalam, terutama karena ayahnya meninggal setelah ditahan di sebuah kamp di China.

"Ayah saya disiksa sampai mati di kamp China. Para penyerang ini mengatakan saya juga pantas berada di sana. Tubuh saya terluka, tetapi semangat saya tetap tidak patah," ujarnya.

Laporan ke Otoritas Belanda

Setelah kejadian itu, Gheni melaporkan insiden tersebut kepada Kepolisian Nasional Belanda. Ia mengatakan laporan tersebut telah diterima dan proses tindak lanjut sedang berjalan.

"Saya telah menghubungi polisi nasional untuk melaporkan serangan ini. Mereka telah menerima laporan saya secara resmi," kata dia.

Ia juga meminta rekaman kamera pengawas di Balai Kota Den Haag digunakan sebagai bukti.

Gheni akan meminta agar semua rekaman pengawasan internal digunakan sebagai bukti utama untuk menyeret para penyerang dirinya ke pengadilan.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak otoritas China terkait tuduhan tersebut.

Den Haag dikenal sebagai kota yang menjadi pusat berbagai lembaga hukum internasional dan sering dijuluki sebagai "Kota Perdamaian dan Keadilan."

Namun, Gheni mempertanyakan keamanan aktivis seperti dirinya.

"Jika kami tidak aman di 'Kota Perdamaian dan Keadilan', lalu di mana kami aman?" tutupnya.

(dna)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |