Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan ekstrem kanan Israel, Bezalel Smotrich, menyerukan pembatalan Perjanjian Oslo (Oslo Accords) dan menolak keras prospek kehadiran negara Palestina di masa depan.
Dalam sebuah wawancara podcast pada Rabu (3/6), Smotrich mengatakan dalam kapasitasnya sebagai Menkeu yang memiliki peran di Kementerian Pertahanan, ia tengah memimpin misi untuk membunuh gagasan "mengerikan tentang pembagian wilayah dan penyerahan teritori itu."
"Dan jika musuh berada di sana, maka truk-truk pickup akan dengan sangat cepat melaju menuju pusat-pusat populasi Negara Israel. Karena itu, dalam masa jabatan ini, melalui peran saya di Kementerian Pertahanan, saya memimpin misi untuk membunuh gagasan mengerikan itu, gagasan tentang pembagian wilayah dan penyerahan teritori," ucap Smotrich seperti dikutip Middle East Eye.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gagasan tentang mendirikan negara teror di jantung Tanah Israel. Dan masyarakat harus memahami ini: artinya adalah menciptakan Gaza dalam skala dua puluh kali lipat, kira-kira sebesar itu, lalu menempatkannya di wilayah yang secara geografis dan topografis mendominasi seluruh pusat populasi Negara Israel," katanya.
Perjanjian Oslo
Israel dan Palestina pernah melakukan perjanjian damai yang membuat dunia kala itu gembira. Pada 13 September 1993, kedua negara menandatangani Perjanjian Oslo I di Gedung Putih.
Penandatanganan langsung dihadiri oleh PM Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat dengan disaksikan Presiden AS Bill Clinton. Yitzhak Rabin dan Arafat untuk pertama kalinya berjabatan tangan meski terlihat kaku. Hampir semua media dunia kala itu mengabadikan momen bersejarah itu.
Disaksikan lebih dari 3.000 tamu, penandatanganan perjanjian damai bersejarah itu ditandai aksi saling bersalaman keduanya.
Jabatan tangan itu disebut untuk melambangkan dukungan mereka terhadap perjanjian yang akan membantu pembentukan pemerintahan mandiri Palestina di wilayah yang diklaim kedua belah pihak. Demikian tulis situs whitehousehistory.com.
Perjanjian bersejarah itu secara garis besar menyepakati masing-masing pihak untuk mengakhiri konflik.
Kesepakatan ini disebut Perjanjian Oslo I.
Mengutip Al Jazeera, kesepakatan kedua, yang dikenal sebagai Oslo II, ditandatangani pada September 1995 dan membahas lebih rinci tentang struktur badan-badan yang seharusnya dibentuk oleh proses perdamaian.
Artinya, ada kesepahaman untuk penentuan nasib sendiri bangsa Palestina, dalam bentuk negara Palestina di samping Israel. Ini berarti bahwa Israel, yang dibentuk di tanah Palestina yang bersejarah pada tahun 1948 dalam sebuah peristiwa yang dikenal oleh warga Palestina sebagai Nakba, akan menerima klaim Palestina atas kedaulatan nasional.
Tak ingin perang lagi
Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat tidak meneken sendiri deklarasi itu. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Israel saat itu, Shimon Peres, dan koleganya dari Palestina, yang menandatangani.
"Perdamaian para pemberani sudah dekat. Seantero Timur Tengah sudah merindu keajaiban kehidupan normal yang tenang," ujar Clinton saat itu.
"Kita tahu jalan sulit yang mengadang. Tiap perdamaian punya rintangannya masing-masing," lanjutnya.
Bahkan Yitzhak Rabin dengan tegas mengatakan ingin segera mengakhiri perang. "Kami yang telah berperang melawan kalian rakyat Palestina, kami nyatakan pada kalian hari ini dengan suara lantang dan jelas, 'cukup sudah darah dan air mata, cukup'," kata Yitzhak Rabin.
"Keputusan sulit yang kami ambil bersama adalah keputusan yang butuh keberanian amat besar," sahut Yasser Arafat.
Sayang, hasil dari kesepakatan Oslo tidak berlanjut sebab Yizthak Rabin tewas ditembak dua tahun kemudian oleh Yahudi radikal. Penggantin Rabin, Benyamin Netanyahu (periode pertama), adalah sosok sayap kanan garis keras yang jelas-jelan menentang perjanjian damai dengan Palestina.
Situs Guardian menuliskan, pada tahun 1996 Netanyahu menjadi perdana menteri termuda Israel, dengan platform yang menentang upaya perdamaian yang gagal, terutama perjanjian Oslo yang memberikan otonomi terbatas kepada Palestina.
Di bawah kepemimpinannya, kendali atas kehidupan Palestina semakin kuat. Pendudukan militer di Tepi Barat dikelola dengan ketat, sementara pembangunan permukiman Yahudi meluas, memberikan Netanyahu dukungan dari kelompok masyarakat yang agresif dan pro-pemukim.
Tak pernah terealisasi
Sayang, hasil dari kesepakatan Oslo tidak pernah terealisasi sebab Yizthak Rabin tewas ditembak pada 1995.
Rabin ditembak bulan setelah perjanjian Oslo II saat warga Israel dan Rabin merayakan perjanjian itu, seorang mahasiswa Yahudi radikal, Yigal Amir, melesakan peluru hingga menembus punggung dan merobek limpa Rabin hingga tewas. Rabin meninggal malam itu juga, 4 November 1995, di Kings of Israel Square di Tel Aviv (sekarang menjadi Rabin Square).
Rabin memerintah Israel dua periode, 1974-1977 dan 1992-1995. Sebagai militer karier dan pernah terlibat berbagai pertempuran termasuk pertempuran enam hari (1967), dia punya sikap keras terhadap warga Palestina termasuk PLO. Menurut Britanica, dia punya reputasi agresif terhadap keamanan negaranya dan wilayah pendudukan.
(imf/bac)
Add
as a preferred source on Google

15 hours ago
5
















































