Siapa Houthi, Milisi Penguasa Yaman yang Perangi Saudi Lagi?

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok milisi Houthi Yaman belakangan menjadi sorotan lagi menyusul perangnya yang kembali memanas dengan Arab Saudi. Saling serang Houthi vs Saudi ini berlangsung kala perang antara Amerika Serikat-Iran juga belum selesai.

Pasukan koalisi Yaman pimpinan Saudi pada Rabu (16/9) melaporkan Houthi meluncurkan drone ke dekat kota suci Mekkah pada Selasa (15/9), namun berhasil ditangkis dan puing-puing jatuh ke selatan Mekkah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peluncuran drone ini dikecam keras Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) karena melanggar kesucian Mekkah. Namun, Houthi membantah pihaknya menyerang Mekkah.

Perselisihan Houthi dan Saudi bermula usai bandara di ibu kota Sanaa, Yaman, diserang, pada 13 Juli lalu. Houthi menuduh Riyadh dalang di balik serangan yang dioperasikan militer Yaman tersebut.

Houthi sejak itu memblokade jalur perairan tempat Saudi mengekspor minyak-minyaknya. Kelompok tersebut juga menyerang situs dan fasilitas minyak Saudi, hingga jalur pipa minyak utama Riyadh terpaksa ditutup.

Siapa Houthi?

Houthi adalah kelompok milisi di Yaman yang bersekutu dengan Iran. Houthi menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa dan beberapa wilayah barat dan utara yang berdekatan dengan Saudi.

Dikutip Al Jazeera, kelompok ini muncul pada tahun 1990-an dan mulai terkenal pada tahun 2014 karena memberontak terhadap pemerintah Yaman. Konflik ini meletuskan perang saudara dan memicu krisis kemanusiaan yang begitu melumpuhkan.

Setelah perang saudara pecah, Saudi turun tangan membantu pemerintah Yaman memimpin koalisi militer melawan Houthi.

Bertahun-tahun perang melawan Houthi, kelompok tersebut bukannya melemah tapi justru menguat.

Salah satu alasannya, karena Iran dan proksinya memasok keahlian, pelatihan, dan persenjataan canggih.

"Mereka adalah sekutu regional Iran yang paling berkomitmen, paling murni secara ideologis, dan paling agresif," kata Michael Knights, kepala peneliti di Horizon Engage yang telah menulis banyak tentang Houthi.

"Mereka dikembangkan oleh Iran dengan sangat cepat. Hizbullah Lebanon butuh waktu 20 tahun untuk dikembangkan, sedangkan Houthi hanya dalam lima tahun," ujarnya, seperti dikutip Associated Press.

Houthi memiliki beragam rudal balistik, rudal jelajah, serta drone. Banyak di antara senjatanya menyerupai milik Iran.

Senjata-senjata itu mampu mencapai semua negara Teluk serta Israel. Houthi juga memiliki rudal anti-kapal canggih dan drone angkatan laut yang dipakai menyerang kapal-kapal terkait Israel di Laut Merah.

Laporan para ahli PBB pada 2024 mengungkap bahwa Houthi telah merekrut hingga 350.000 pejuang pada tahun 2024, meningkat dari hanya 30.000 pada tahun 2015.

Konflik antara Houthi dan Saudi telah membuat Negeri Minyak cemas, terutama setelah beredar kabar bahwa stok senjata Amerika Serikat menipis. AS memasok beragam persenjataan ke Saudi, termasuk pesawat canggih serta sistem pertahanan rudal mutakhir.

Saudi yang di bawah tekanan kini berupaya menggalang bantuan sana-sini, termasuk dari Pakistan dan Turki. Pada 7 Agustus lalu, ketiga meneken "Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah" serupa NATO, yang menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.

(blq/rds)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |