Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, memantau langsung uji coba sistem "senjata jenis baru" dan memuji hasilnya sebagai bukti kemajuan teknologi militer negaranya.
Media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), melaporkan uji coba tersebut berlangsung pada Minggu (20/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biro rudal Korea Utara disebut berhasil menguji sistem "senjata jenis baru" di hadapan Kim. Korea Utara tidak menjelaskan spesifikasi senjata yang diuji.
Namun, Kim menyebut hasil uji coba tersebut menunjukkan kemampuan teknologi pertahanan terbaru negaranya.
"Demonstrasi teknologi pertahanan ultramodern yang tak terbantahkan kehebatannya," kata Kim.
Ia menambahkan bahwa kemajuan tersebut akan memberikan "sakit kepala yang tak terobati serta pukulan yang sangat kejam dan tak terelakkan" bagi pihak lawan.
KCNA melaporkan Kim mengaitkan pengembangan sistem senjata tersebut dengan kesiapan militer Korea Utara.
"Penguasaan teknologi semacam itu memiliki arti penting bagi kesiapan perang negara dan pengembangan angkatan bersenjata di masa depan," kata Kim.
Uji coba senjata baru itu dilakukan dua hari sebelum KCNA melaporkannya.
Sebelumnya, Korea Selatan dan Jepang menyatakan Korea Utara telah meluncurkan dua rudal balistik jarak pendek ke perairan di lepas pantai timurnya. Peluncuran tersebut memicu kecaman dari Seoul dan Tokyo.
Korea Selatan menilai tindakan Pyongyang melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan meminta Korea Utara menghentikan aktivitas rudal balistiknya.
Jepang juga menyampaikan "protes keras" kepada Korea Utara. Tokyo menyebut peluncuran rudal tersebut sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan kawasan.
Peluncuran pada Minggu juga terjadi sekitar delapan hari setelah Korea Utara menembakkan sejumlah rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur, yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.
Pyongyang kemudian menyebut peluncuran tersebut sebagai bagian dari latihan gabungan kekuatan tembak. Latihan itu melibatkan artileri dan rudal jarak jauh.
KCNA mengklaim senjata dalam latihan tersebut "mengenai sasaran dengan akurasi 100 persen".
Pengembangan senjata tersebut berlangsung ketika Korea Utara terus mempertahankan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.
Pyongyang telah menyatakan bahwa status kepemilikan senjata nuklirnya bersifat permanen dan tidak dapat diubah.
Pernyataan itu kembali disampaikan setelah Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengadopsi resolusi yang menuntut penghentian aktivitas nuklir Korea Utara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyatakan resolusi IAEA "tidak berdampak pada posisi DPRK sebagai negara pemilik senjata nuklir".
DPRK merupakan singkatan dari nama resmi Korea Utara, Democratic People's Republic of Korea.
Saudara perempuan Kim Jong Un yang memiliki pengaruh besar di pemerintahan Korea Utara, Kim Yo Jong, juga sebelumnya menegaskan status nuklir negaranya.
Kim Yo Jong menyebut status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir bersifat "mutlak".
Ia bahkan menyebut pihak yang masih mengharapkan denuklirisasi Korea Utara sebagai "orang-orang bodoh."
(bac/mge/bac)

14 hours ago
7















































