Jakarta, CNN Indonesia --
Hamas mengecam kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan istrinya, Sara, ke terowongan di bawah Kota Tua Yerusalem Timur dan kompleks Masjid Al Aqsa pada Sabtu (19/9).
Netanyahu mengunggah video kunjungan tersebut melalui akun Instagram resminya pada Minggu (20/9).
Dalam kunjungan itu, keduanya mengikuti ibadah Selichot Yahudi di Tembok Barat, yang dikenal sebagai Tembok Al-Buraq oleh umat Islam. Terowongan yang mereka kunjungi menjadi sorotan karena sensitivitas situs itu bagi umat Islam dan Palestina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hamas, "Masjid Al-Aqsa-secara keseluruhan, termasuk halaman, ruang salat, dinding, dan gerbangnya-akan tetap menjadi masjid yang sepenuhnya milik Islam".
Kelompok tersebut juga menyinggung aksi yang dilakukan pihak Israel di sekitar situs tersebut.
"Ini adalah fakta yang tak terbantahkan: berbagai penggalian, penerobosan, ritual, serta upaya pihak pendudukan untuk memaksakan narasi Alkitabiah mereka tidak akan pernah berhasil mengubah identitas situs ini-ataupun melenyapkan berbagai penanda pentingnya," kata Hamas.
Selain kunjungan Netanyahu, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, juga memasuki kompleks Al-Aqsa bersama sejumlah orang Yahudi dengan pengawalan polisi Israel. Aksi tersebut mendapat kecaman dari sejumlah negara Arab, termasuk Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Mesir.
Kelima negara tersebut menyoroti pentingnya mempertahankan status quo historis dan hukum di kompleks Al-Aqsa.
Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut aksi Ben-Gvir sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap status quo historis dan hukum yang berlaku di Al-Aqsa serta penodaan terhadap kesuciannya."
Yordania juga menolak tindakan pejabat Israel yang memasuki kompleks tersebut bersama kelompok Yahudi serta tindakan polisi Israel yang memfasilitasi kunjungan itu. Yordania menyebut aksi itu sebagai "pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional".
Yordania juga memperingatkan agar tidak ada upaya untuk menciptakan realitas baru ataupun membagi kompleks Al-Aqsa secara temporal maupun spasial.
Amman menegaskan bahwa seluruh kompleks Al-Aqsa seluas 144 dunam atau 14,4 hektare merupakan tempat ibadah umat Islam. Yordania juga menyebut Dewan Wakaf Islam Yerusalem sebagai otoritas yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan akses ke situs tersebut.
Kementerian Luar Negeri Kuwait juga menyebut kunjungan Ben-Gvir sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional, serta tindakan provokatif."
Kuwait menyerukan masyarakat internasional mengambil langkah untuk menghentikan tindakan tersebut dan kembali menegaskan dukungannya terhadap hak-hak Palestina, termasuk pembentukan negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut tindakan tersebut sebagai "pelanggaran terang-terangan dan provokasi yang tidak dapat diterima" terhadap umat Muslim di seluruh dunia.
Qatar memperingatkan bahwa tindakan yang dinilai menargetkan status quo historis dan hukum di Yerusalem dapat memicu kekerasan dan mengganggu stabilitas kawasan.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi juga mengecam aksi tersebut. Arab Saudi menyebut tindakan itu sebagai "pelanggaran terang-terangan dan provokasi bagi umat Islam di seluruh dunia."
Arab Saudi menyerukan masyarakat internasional menjalankan tanggung jawabnya untuk menghentikan tindakan yang disebutnya melanggar hukum internasional dan hukum kemanusiaan.
Sementara itu, Mesir memperingatkan bahwa penerobosan kompleks Al-Aqsa dapat menjadi tanda meningkatnya ketegangan dan eskalasi.
Kementerian Luar Negeri Mesir menyebut aksi tersebut sebagai "pelanggaran terhadap kesucian situs-situs suci Islam dan provokasi terhadap perasaan umat Muslim di seluruh dunia."
Mesir juga menekankan perlunya menghormati status quo historis dan hukum di Masjid Al-Aqsa serta perwalian Hashemite atas situs-situs suci umat Islam dan Kristen di Yerusalem.
Kecaman tersebut muncul menjelang Yom Kippur, salah satu hari raya penting dalam agama Yahudi. Menurut laporan Anadolu, sebanyak 992 orang Israel memasuki kompleks tersebut menjelang perayaan tersebut.
Otoritas Palestina dan Yordania sebelumnya telah berulang kali memperingatkan terhadap upaya mengubah status quo di Al-Aqsa ataupun menerapkan pembagian waktu dan ruang di kompleks tersebut.
Kunjungan tersebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat hari raya Yahudi.
(dna/bac)

11 hours ago
5















































