Wabah Ebola Menyebar Kian Ganas di Kongo, Korban Jiwa Tembus 2.000

10 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperingatkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) menyebar lebih cepat daripada kemampuan otoritas kesehatan untuk mengendalikannya.

WHO memperingatkan jika penyebaran terus berlangsung dengan kecepatan saat ini, jumlah korban jiwa bisa melampaui wabah Ebola paling mematikan yang pernah tercatat.

Dikutip dari Al Jazeera, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada hari Rabu (12/8) bahwa dengan laju saat ini, wabah tersebut akan melampaui wabah Ebola di Afrika Barat tahun 2014-2016.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejauh ini, wabah di Kongo Timur telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dari lebih dari 4.300 kasus. Angka tersebut menjadikannya salah satu wabah Ebola dengan penyebaran tercepat yang pernah tercatat.

Wabah ini secara resmi diumumkan pada 15 Mei. Namun, hasil pengurutan genetik menunjukkan virus tersebut sebenarnya telah mulai menyebar sejak Februari.

Wabah tersebut disebabkan oleh virus Bundibugyo yang langka. Hingga kini, belum tersedia vaksin atau pengobatan yang disetujui.

Penanganan wabah juga menghadapi berbagai hambatan. Wilayah terdampak berada di daerah terpencil dan dekat dengan wilayah konflik di perbatasan Kongo dengan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda.

Banyak kasus infeksi dan kematian terjadi di wilayah yang sulit dijangkau petugas kesehatan. Infrastruktur yang lemah, fasilitas kesehatan yang kekurangan sumber daya, penyebaran informasi yang salah, serta aksi mogok tenaga kesehatan akibat upah yang belum dibayar turut memperlambat penanganan.

Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Dr. Abdirahman Mahamud mengatakan wabah diperkirakan mencapai puncaknya dalam enam bulan berdasarkan skenario moderat. Ia juga mengatakan dalam skenario yang lebih buruk, wabah dapat berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan.

Sebagai perbandingan, wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016 menewaskan lebih dari 11.000 orang dari sekitar 28.000 kasus. Wabah itu menjadi yang paling mematikan dalam sejarah Ebola dan mendorong upaya internasional untuk mengembangkan vaksin.

Para pejabat WHO memperingatkan jumlah korban di Kongo Timur dapat melampaui angka tersebut jika akses petugas kesehatan ke masyarakat terdampak tidak segera diperbaiki.

(mge/dna)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |