Taiwan Rancang T-Dome, Pertahanan Udara Mirip Iron Dome Israel

9 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Taiwan telah mengajukan tambahan anggaran pertahanan sebesar US$40 miliar untuk beberapa tahun dengan fokus mengembangkan sistem pertahanan udara yang dijuluki "T-Dome".

Sistem ini akan dirancang buat melindungi pulau demokrasi tersebut dari potensi serangan jet tempur, rudal atau drone China. China sendiri telah lama mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan mengancam akan menggunakan kekuatan untuk mencaploknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden Taiwan Lai Ching-te telah berjanji mempercepat pembangunan T-Dome guna menciptakan "jaring pengaman" bagi negaranya dan melawan ancaman China yang semakin intensif.

Lai telah mengumumkan soal T-Dome pada 10 Oktober lalu dan publik telah membanding-bandingkannya dengan sistem antirudal Iron Dome milik Israel.

Analis keamanan yang berbasis di Taipei, J. Michael Cole, menjelaskan terdapat perbedaan utama antara T-Dome dengan Iron Dome. T-Dome dikatakan akan menghadapi ancaman yang jauh lebih besar.

"Ini ditujukan untuk pesawat PLA, rudal balistik dan jelajah, serta, yang semakin meningkat, drone," kata Cole, menggunakan akronim untuk People's Liberation Army milik China.

Taiwan sudah memiliki sistem pertahanan udara, termasuk Patriot buatan Amerika Serikat (AS) dan sistem Sky Bow bikinan dalam negeri.

Taiwan juga sedang menunggu menerima unit National Advanced Surface-to-Air Missile System dari AS.

T-Dome akan mengintegrasikan senjata itu dengan radar, sensor dan teknologi canggih lainnya untuk menyediakan apa yang digambarkan Lai sebagai "deteksi tingkat tinggi dan intersepsi yang efektif".

"Jika Anda tidak mengintegrasikan perangkat deteksi ini, maka rudal pertahanan udara tersebut, baik untuk tujuan kontra-tembakan, serangan balik, maupun kontra-drone, tidak dapat mencapai intersepsi yang efisien atau koordinasi dan alokasi tembakan yang efektif," ujar Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo.

Su Tzu-yun, pakar militer di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taipei, mengatakan T-Dome akan memiliki dua komponen utama, sistem komando dan kendali.

Keduanya disebut bakal "mengumpulkan data radar, mengidentifikasi ancaman, memutuskan pencegat mana yang harus ditembakkan dan mengoordinasikan semua unit sehingga mereka bereaksi dalam hitungan detik."

Bagian lainnya adalah "lapisan pencegat", senjata yang digunakan untuk "menembak jatuh ancaman yang datang" di berbagai ketinggian.

Belajar dari Ukraina

Taiwan telah belajar dari Ukraina tentang pentingnya memiliki sistem pertahanan udara yang dapat melindungi pasukan tempur, infrastruktur penting dan bangunan sipil.

Meski Taiwan telah meningkatkan militernya selama dekade terakhir dan telah menghabiskan miliaran dolar untuk persenjataan AS, Taiwan akan kalah jika menjalani konflik dengan China.

Su bilang T-Dome membuat Taiwan memiliki kemampuan "menetralisir" serangan rudal China yang tiba-tiba dan akan membantu mencegah Beijing menyerang.

Su mengatakan kapal perang China yang secara rutin dikerahkan di dekat Taiwan mampu menembakkan ratusan rudal ke bandara, lokasi radar dan pangkalan militer Taiwan "dalam waktu tiga menit". Itu belum termasuk ratusan rudal yang dimiliki Tiongkok di darat.

"Inilah sebabnya Taiwan membutuhkan sistem pertahanan udara terpadu yang mampu merespons tantangan-tantangan yang muncul ini," kata Su.

Ragu siap 2027

Kesiapan T-Dome tergantung pada berbagai faktor, termasuk kapan AS dapat mengirimkan senjata dan teknologi yang dibutuhkan. Saat ini Taiwan sudah menunggu senjata AS senilai miliaran dolar.

Kementerian Pertahanan telah menerbitkan daftar barang yang rencananya akan dibeli dengan anggaran baru, termasuk artileri presisi, rudal serang presisi jarak jauh, rudal anti-balistik dan anti-tank, serta sistem tanpa awak.

Parlemen yang dikuasai oposisi belum menyetujui anggaran tersebut dan belum jelas apa yang akan dibeli Taiwan dari AS, tetapi Lai mengatakan akan ada akuisisi senjata AS yang "signifikan".

Meski demikian Su mengatakan bahwa menyelesaikan seluruh arsitektur T-Dome sebelum 2027 adalah mustahil.

"Integrasi sistem dan produksi pencegat baru, rudal, senjata antipesawat dan senjata berenergi terarah, semuanya akan membutuhkan waktu," ucap Su.

Kesiapan tidak hanya bergantung pada pengiriman, kata Drew Thompson, seorang peneliti senior di Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Universitas Teknologi Nanyang Singapura.

"Ini benar-benar bergantung pada bagaimana Anda mendefinisikan efektivitas, bagaimana Anda mendefinisikan kesiapan, dan apa saja yang termasuk dalam T-Dome," kata Thompson.

"Apakah mereka menghitung amunisi cadangan perang? Apakah mereka memiliki cukup rudal yang disimpan? Apakah rudal-rudal itu didistribusikan?" kata Thompson.

Dan itu juga mengharuskan militer "belajar cara mengoperasikan" sistem tersebut.

(fea)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |